Style Blitz

Tak Pernah Beli Uang Kuno

Banyak uang-uang kuno yang saya koleksi saya dapat dari menyapa atau menegur orang di sekitar saya saat dalam perjalanan

Tayang:
TRIBUNPONTIANAK.CO.ID,  PONTIANAK - Sok kenal, sok dekat (SKSD) bisa jadi strategi Suhari untuk mendapatkan uang kuno.

Saat ini ia mengoleksi 89 lembar uang kertas kuno baik Indonesia maupun mancanegara. Selain dari teman sejawat, uang kuno yang dikoleksinya nyaris didapat kala Hari, sapaannya, berada dalam sebuah perjalanan.

"Banyak uang-uang kuno yang saya koleksi saya dapat dari menyapa atau menegur orang di sekitar saya saat dalam perjalanan," ujarnya kepada Tribunpontianak.co.id, belum lama ini.

Modalnya cukup sederhana, ia cukup menyunggingkan senyum kemudian menyapa dengan kata-kata singkat. Orang yang disapanya pasti gembira dan membalas sapaannya. Sedikit berbincang-bincang ringan, lantas Hari mengkerucutkan pembicaraan pada uang kuno.

"Alhamdulillah, tak ada uang kuno yang saya beli. Semuanya hasil dari pemberian orang yang saya jumpai tiba-tiba," katanya.

Hari mulai menekuni hobinya sejak 1998. Entah mengapa, hatinya seolah digiring untuk mengkeramatkan barang yang dijadikan sebagai alat tukar itu. Dia memiliki uang kertas Rp 5 terbitan Belanda saat menduduki Indonesia.

Pada uang ini tak tertulis tahun penerbitan, bertuliskan nederlandsch-indische gouvernementsgulden lima roepiah, tersimpan rapi dalam wadah plastik.

Tidak hanya itu, uang senilai Rp 1 tanpa tulisan Bank Indonesia, melainkan Republik Indonesia bergambar ibu-ibu sedang membajak sawah terbitan tahun 1960 turut Hari tawan dalam daftar uang kuno yang dikoleksinya. Uang kuno yang terbit belakang yakni senilai Rp 1 terbitan 1953 bergambar panorama sawah juga berhasil Hari koleksi.

"Ada kebanggaan tersendiri saat dapat mengoleksi uang kertas kuno yang telah berumur puluhan tahun silam," tukasnya.

Selain mengoleksi uang kuno berasal dari Indonesia, puluhan uang kuno miliknya juga banyak berasal dari negara luar. Tercatat seperti uang kuno Brunei Darussalam, Kosta Rika, Bolivia, Brasil, Arab Saudi, Malaysia, China, Bhutan, dan beberapa negara lain dapat Hari jaga keutuhannya.

Heri yang seorang petani bisa cakap mengumpulkan lembar demi lembar uang kuno. "Saat berada di kereta api atau di pesawat, komunikasi yang saya bangun dengan orang bule yakni dengan menggunakan bahasa isyarat. Itu saja. Pernah suatu waktu, saya diajak ngomong Inggris, ya saya jawab saja pakai bahasa Jawa biar sama-sama bingung," katanya sembari tertawa.

Kali pertama memulai hobi unik tersebut, Hari kadang memperoleh cibiran dari teman-temannya.

Mereka menganggap Hari melakukan pekerjaan yang sia-sia belaka. Namun kini, manakala temannya bertandang ke rumahnya dan mengetahui Hari banyak mengoleksi uang kertas maupun logam kuno, banyak yang hendak memintanya bahkan ada yang mau membeli uang kuno koleksinya itu.

"Asal kebutuhan keluarga saya sudah cukup dengan pekerjaan saya sekarang, saya tidak akan menjualnya. Kendati tak ada uang pun, sepertinya saya tidak akan menjualnya," katanya. (ful/ Tribun Pontianak cetak)

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved