MUI-Walubi Prihatin Kekerasan Rohingya
MUI dan Walubi ingin menyatakan keprihatinan yang sangat mendalam atas peristiwa yang terjadi di Myanmar.
Imbauan tersebut dinyatakan di press room gedung Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) RI, Senin (6/8/2012).
"MUI dan Walubi ingin menyatakan keprihatinan yang sangat mendalam atas peristiwa yang terjadi di Myanmar. Perlu diingat bahwa peristiwa ini berkait dengan kemanusiaan, jadi tidak perlu dipersempit menjadi permasalahan agama," kata perwakilan MUI, Syamsul Effendi Yusuf.
"Kami di sini ingin mengimbau Pemerintah Myanmar untuk tidak menggunakan kekerasan dalam menyelesaikan permasalahan dengan warga Rohingya," jelas Syamsul.
Selain itu, Syamsul juga meminta Pemerintah Indonesia berperan aktif membantu menyelesaikan permasalahan tanpa kekerasan.
MUI juga mengimbau badan-badan internasional seperti PBB untuk berperan aktif meyelesaikan permasalahan tanpa kekerasan. "Persoalan ini sudah lama terjadi, yaitu sejak akhir tahun 1940-an namun ditutup-tutupi," jelas Syamsul.
Terakhir, MUI meminta agar anak bangsa, khususnya umat Islam dan umat Buddha untuk tetap menjaga kerukunan hidup umat beragama serta persatuan dan kesatuan bangsa.
"Kami menyerukan ini karena kami melihat ada kelompok tertentu yang salah paham," jelas Syamsul. Menurut dia, ini adalah persoalan etnik yang memang memiliki akar sejarah yang sangat lama yang kemudian berkaitan dengan aspek-aspek politik.
"Intinya, yang dikhawatirkan di sini adalah adanya ethnic cleansing dan kejahatan genosida yang tidak dapat ditoleransi oleh agama," jelas Syamsul.
Menurut Syamsul, kejadian ini bukan terjadi secara mendadak, tetapi melalui operasi militer berkali-kali dan melibatkan masyarakat. "Ini adalah taktik militer untuk menciptakan konflik horizontal," jelasnya.