Kejahatan Meningkat

Dari sinilah perlu disadari bersama bahwa soal keamanan tidak hanya menjadi tanggung jawab polisi, tetapi juga masyarakat

Tayang:
Penulis: Ahmad Suroso |
TRIBUNPONTIANAK.CO.ID - Memasuki bulan Ramadan 1433 aksi kejahatan di Pontianak mulai menunjukkan peningkatan. Ini terlihat dari terjadinya dua kasus perampokan bermodus operandi memecahkan kaca mobil dalam dua hari berturut-turut. Kasus perampokan pertama terjadi 24 Agustus di sentra bisnis Jalan Gajahmada, mengakibatkan korbannya kehilangan uang Rp 200 juta.

Belum lagi pihak kepolisian berhasil meringkus tersangka pelaku perampokan tersebut, aksi perampokan dengan modus memecahkan kaca mobil giliran menimpa tiga karyawan PT Alpa Karya Perkasa, Rabu (25/7/2012) pagi. Saat itu mereka sedang melakukan promosi produk barang yang akan dijualnya.

Tanpa rasa curiga, ketiga karyawan tersebut yaitu Lukman, Tiara dan Selvi memarkirkan kendaraan di kawasan pasar Jalan Komyos Sudarso Pontianak Barat beserta tas berisi sejumlah uang dan surat-surat berharga didalam mobil KB 1783 HN. Saat sedang menawarkan barang dagangannya mereka diberitahu warga kalau mobil mereka dipecahkan orang.

Akibat peristiwa tersebut, uang milik korban Rp 1 juta serta surat-surat berharga lainnya yang ada di dalam mobil raib. Uang dan tiga tas berisi surat-surat penting didalam tas seperti ATM, STNK motor, kunci motor dan beberapa surat lainnya diambil oleh dua orang mengendarai sepeda motor yang kabur ke arah luar kota.

Setelah mengetahui mobil dipecahkan oleh pelaku pencurian dan tas hilang, tiga karyawan ini melaporkan kejadian tersebut ke Polsek Pontianak Barat.

Aksi perampokan itu terbilang nekat, karena dilakukan sekitar pukul 09.00 saat lalu lintas padat dan pengunjung pasar sedang ramai. Senekat itukah perampok? Mobil yang diparkir di tempat lalu lintas padat dan dekat pasar, pada saat pelaku memecahkan kaca tentu akan mengundang perhatian orang.

Kenyataannya perampok leluasa melakukan aksinya, dan bisa kabur membawa hasil kejahatannya. Apakah tidak ada warga yang mengetahui aksi itu? Ataukah ada yang tahu, tapi mereka cuek atau takut kepada penjahatnya, dan baru memberitahu korban ketiga pelakunya sudah kabur.

Dari sinilah perlu disadari bersama bahwa soal keamanan tidak hanya menjadi tanggung jawab polisi, tetapi juga masyarakat. Tanpa dukungan penuh dari masyarakat, hampir mustahil polisi mampu mengatasi seluruh persoalan ancaman keamanan.

Masyarakat dengan pengarahan dari polisi seharusnya juga mampu menjadi “alat pengaman” bagi diri sendiri. Sistem keamanan mandiri inilah saatnya digalakkan.

Tanpa kesadaran meningkatkan keamanan di manapun, niscaya aksi kejahatan akan makin meningkat. Apalagi memasuki bulan Ramadan dan menjelang lebaran sudah menjadi fenomena umum tiap tahun kejahatan meningkat di berbagai kota.

Pelakunya mulai dari orang yang kepepet hidupnya dan tidak ada pilihan untuk memenuhi kebutuhan perutnya sampai pelaku kejahatan profesional.

Kita berharap polisi bisa mengusut dan mengejar pelaku dua kasus perampokan tersebut sampai tertangkap. Dan bisa membuat efek jera kepada pelaku untuk tidak melakukan tindakan yang menakutkan publik. Bila dua kasus itu lewat begitu saja, ini akan memancing penjahat yang lain melakukan aksi serupa.

Para pencoleng akan memandang sebelah mata saja kepada polisi, mereka tak takut bahwa polisi akan menangkap mereka.
Kasus itu juga menjadi alert bagi pemilik kendaraan agar waspada dan berhati-hati dan tidak menyimpan barang-barang berharga didalam mobil yang dapat memancing tindak kejahatan. Ketika akan meninggalkan mobil yang diparkir di area terbuka, barang-barang berharga harus dibawa.

Jangan sampai apa yang dialami tiga karyawan PT tersebut, atau lebih apes lagi menimpa Dhayek Muhamad, pedagang emas di Yogyakarta yang kehilangan 3 buah kopor berisi perhiasan senilai Rp 1,5 miliar yang ditaruh di bagasi mobil, Jumat (20/7/2012).

Waktu itu kaca mobil Xenia yang ditumpangi bersama kerabatnya saat parkir di rest area Km 226 dan 227, dicongkel maling dan 3 kopor isi perhiasan tersebut raib, ketika ditinggal ke toilet dan kedai kopi yang berjarak  10 meter dengan mobilnya.

Kini saatnya warga dan polisi bahu membahu menjaga keamanan. Jangan sampai aksi kejahatan merajalela sehingga membuat citra buruk bagi Kota Pontianak dan Kalbar pada umumnya. (*)

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved