Air Ledeng Asin
Berkurangnya debit air Sungai Kapuas mengakibatkan tidak bisa lagi memproduksi air bersih selama 24 jam
Penulis: Ahmad Suroso |
Bagaimana dengan Pontianak dan sekitarnya? Wilayah Khatulistiwa juga mulai merasakan dampak awal musim kemarau. Air Sungai Kapuas yang menjadi sumber air baku PDAM Tirta Khatulistiwa Pontianak, maupun PDAM Kabupaten Kubu Raya debitnya berkurang. PDAM bisa saja menyedot air hingga ke tengah-tengah Sungai Kapuas. Tetapi kalau itu terus dilakukan bisa mengganggu arus lalu lintas kapal motor di Sungai Kapuas.
Berkurangnya debit air Sungai Kapuas mengakibatkan tidak bisa lagi memproduksi air bersih selama 24 jam. Dalam sepekan terakhir kondisi air baku PDAM yang bersumber dari Sungai Kapuas sudah sangat memprihatinkan karena terintrusi air asin. Kadar garam pada bahan baku air PDAM Pontianak itu sangat tinggi sehingga kalau didistribusikan atau dialirkan ke masyarakat airnya payau atau terasa asin.
"Sejak sepekan terakhir air yang didistribusikan oleh PDAM sudah mulai terasa asin," ujar Fitri (28) seorang ibu rumah tangga di Kompleks Pemda, Kecamatan Pontianak Utara seraya berharap, PDAM Kota Pontianak mendistribusikan air tidak asin agar nyaman digunakan untuk MCK atau keperluan sehari-hari. Karena air tersebut jika digunakan untuk keperluan mandi cuci dan kakus (MCK) juga terasa lengket di kulit dan sabun mandi yang digunakan tidak banyak menimbulkan busa.
Hal ini juga diakui Direktur Teknik PDAM Tirta Khatulistiwa Kota Pontianak Afandi ST yang mengatakan dari posisi alam Kota Pontianak dan dengan tercampurnya kadar air laut itu yang menyebabkannya air ledeng di Pontianak menjadi payau. Ia mengungkapkan debit air laut secara sejak Kamis, Jumat lalu dan tiga hari kemarin menjadi 1.000 PPm (part per million).
Bahkan Senin (2/7) malam kadar air laut naik secara drastis menjadi 2.800 PPm. Padahal kandungan garam ambang batas minimal hanya 800 Ppm. "Kadar keasinan tergantung dari pasang surutnya air. Kalau air pasang, secara otomatis kadar keasinan akan naik, begitu juga sebaliknya," ujarnya.
Dengan kondisi alam sekarang, hampir di seluruh Kota Pontianak mengalaminya. Kondisi air PDAM yang payau atau mulai terasa asin memaksa sebagian warga terpaksa membeli lebih banyak air galon untuk kebutuhan memasak dan lainnya. Zulkarnaen (35) warga Perumnas II, Jl Komyos Sudarso misalnya, dalam sehari Zulkarnaen menghabiskan tiga galon air.
Padahal biasanya dia bisa menggunakan satu galon untuk 3-4 hari. "Beli air galon ini sudah sejak tiga hari yang lalu," ujarnya. Air galon digunakannya untuk membilas badan saat mandi, minum, dan memasak. "Kalau mandi, dengan kondisi air sekarang ini, badan gatal, kulit kepal dan ketombean," ujarnya pada koran ini.
Pemkot dan DPRD sebenarnya sudah mencarikan solusi, namun memang belum maksimal. Contohnya, DPRD dan Pemkot sudah menginvestasikan anggaran sekitar Rp 25 miliar untuk PDAM. Dana ini diperuntukan pengembangan boster-bostern, namun kebutuhan ril PDAM mencapai Rp 160 miliar.
Anggota Komisi C DPRD Kota Pontianak Nanang Setia Budi SSos mengusulkan kepada Dinas PU selaku pelaksana teknik dan fisik bisa membuat bendungan di Sungai Penepat, Ambawang. Setidaknya saat air pasang, maka air laut tidak akan masuk, karena di sana lokasinya jauh dari muara.
Pihak PDAM sendiri hanya bisa mengimbau masyarakat tak mengonsumsi air tersebut. Sebab mengonsumsi air yang memiliki kandungan garam yang berlebihan akan berpengaruh terhadap gangguan sistem pencernaan.
Misalnya luka lambung, kanker lambung, dan perut. Beberapa indikasinya antara lain, tekanan darah naik, mudah haus, kembung, dan jarang buang air kecil. Ketika terlalu banyak garam dalam tubuh, maka tubuh akan memerlukan lebih banyak air untuk mencairkan kandungan garam dalam darah. Sehingga kita akan merasa mudah haus.
Karena itu, sambil menunggu langkah signifikan dari PDAM untuk perbaikan kualitas air ledeng agar tidak asin, mulai sekarang pandai-pandailah menghemat air. Dan jangan gunakan air ledeng untuk memasak atau untuk air minum. (*)