Mari Dengarkan Suara Anak-anak

Tak ada topeng sebagaimana yang mungkin melekat erat pada sebagian orang dewasa. Dari wajah-wajah itu terpancar optimisme untuk masa depan

Tayang:
Penulis: Andi Asmadi |
TRIBUNPONTIANAK.CO.ID - Wajah anak-anak yang tergabung dalam Forum Anak Daerah (FAD) Kalbar, yang berkunjung ke redaksi Tribun Pontianak, Kamis (21/6) sore, sungguh ceria. Semuanya mengukir senyum termanis.

Wajah-wajah itu terlihat masih bersih, polos dan apa adanya, jauh dari sikap palsu dan kepura-puraan. Tak ada topeng sebagaimana yang mungkin melekat erat pada sebagian orang dewasa. Dari wajah-wajah itu terpancar optimisme untuk masa depan Kalbar yang lebih baik.

Anak-anak Kalbar itu sebelumnya berkumpul di Hotel Dangau, Kubu Raya, untuk membahas permasalahan yang dihadapi anak-anak di daerah ini, termasuk menyusun rekomendasi yang akan disuarakan pada Forum Anak Nasional di Lembang, Bandung, 25-28 Juni 2012.

Mereka adalah anak-anak yang beruntung menemukan jalan yang baik dalam proses pertumbuhan dan pendidikannya. Mereka bisa bersekolah dan bersosialisasi dengan baik dalam tatanan kehidupan bermasyarakat yang normal. Mereka juga punya harapan untuk melangkah ke depan dengan dukungan dari orangtua dan keluarga, serta lingkungan yang ramah.

Namun, tidak demikian dengan nasib sebagian anak-anak Kalbar lainnya. Banyak di antara mereka yang terbenam dalam kehidupan yang serba sulit, terjebak dalam lingkungan yang rumit, hingga terpeleset ke dalam kegiatan yang pahit.

Jangankan bisa bersekolah, untuk memenuhi kehidupan sehari- hari saja mereka kesusahan. Jangankan mendapat dukungan dari orangtua dan keluarga, untuk sekadar sapaan sayang mereka tak lagi merasakannya.

Begitu banyak persoalan yang membelit sebagian anak-anak Kalbar, yang sudah dalam tahap memprihatinkan. Yayasan Nanda Dian Nusantara pernah merilis, sebanyak 1.272 anak di Kalbar, khususnya Kota Pontianak, terlibat kasus anak selama tiga tahun mulai dari rentang 2009-2011. Sebagian dari mereka menjadi korban dari tindak pidana, dan sebagian lagi malah terjerumus ke dalam tindak pidana.

Satu di antara contohnya adalah apa yang dibeberkan Ketua FAD Sanggau, Simon Julianus, tentang kasus trafficking yang mengancam anak-anak di daerahnya. Banyak anak yang terpaksa putus sekolah karena ketiadaan biaya. Bukan saja mereka kemudian menjadi tenaga kerja di bawah umur, tak sedikit malah terjerat dalam praktik asusila.

Mereka dijadikan "komoditas" untuk mengeruk keuntungan tanpa memikirlan lagi bagaimana masa depan mereka kelak. Seperti, menjadi pekerja di warung remang-remang di sekitar perbatasan.

Di Kota Pontianak kita dengan gampang menemukan anak yang menjadi pengemis atau peminta-minta, justru di bawah pengawasan orangtuanya sendiri. Anak-anak yang lain lagi hidup dalam suatu komunitas yang lekat dengan dunia narkoba. Mereka hidup terlunta-lunta, tanpa pendidikan, ketika seharusnya mendapatkan perlindungan dari negara.

Apapun, dan bagaimanapun, menjadi kewajiban negara untuk memberi perlindungan kepada anak-anak Indonesia. Dalam UU No 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak jelas disebutkan, perlindungan anak adalah segala kegiatan untuk menjamin dan melindungi anak dan hak-haknya agar dapat hidup, tumbuh, berkembang, dan berpartisipasi, secara optimal sesuai dengan harkat dan martabat kemanusiaan, serta mendapat perlindungan dari kekerasan dan diskriminasi.

Kita berharap, perjuangan anak-anak Kalbar yang tergabung dalam FAD akan memantik perhatian pemerintah untuk lebih fokus dan peduli. Toh sudah menjadi kewajiban dan tanggungjawab negara untuk menjamin perlindungan, pemeliharaan, dan kesejahteraan anak --sebagaimana yang diamanatkan oleh UU dan UUD 1945. Suara anak-anak adalah suara yang jernih dengan artikulasi yang bersih yang patut kita dengar. (****)

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved