Masihkah Kita Bisa Tegakkan Harga Diri?
Rabu, 20 Juni 2012 23:20 WIB
Share |
Korupsi-dan-martabat-bangsa.jpg
beckbelajar.blogspot.com
Korupsi dan martabat bangsa

TRIBUNPONTIANAK.CO.ID - Lagu Price Tag dari Jessie J bisa menjadi hiburan bagi kita di tengah kegalauan atas situasi carut-marut di negeri ini. Begitu banyak kasus yang melibatkan elite partai dan pemerintahan yang semua berujung kepada money, money, money.

Hampir tak ada ruang lagi yang tidak melibatkan money. Maka, lantunan suara Jessie pun menjadi katarsis dari kesumpekan kasus korupsi yang membelit rakyat belakangan ini. It's not about the money, money, money. We don't need your money, money, money....

Dalam diskusi yang berlangsung di Universitas Al Azhar, Jakarta, Rabu (20/6/2012), Plt Deputi Penindakan KPK, KMS Rony, menegaskan, praktik korupsi dapat terjadi di lembaga manapun. Korupsi bahkan terjadi di Kementerian Agama. "Ada kasus korupsi pengadaan Alquran. Ini luar biasa, saya begitu sedih," katanya.

Dia mengetahui praktik korupsi itu karena dia turut menanganinya. Selain itu, istrinya adalah pegawai di kementerian tersebut. "Astaghfirullah, kitab suci pun dikorupsi," lanjutnya.

Untuk mencapai suatu tujuan, terutama harta dan tahta, sepertinya segala cara pun kini dilakukan. Kini begitu banyak bermunculan makiavelis-makiavelis yang akan melakukan apa saja untuk memenuhi tujuan dari dirinya sendiri, kelompok, maupun partai.

Makiavelis mengacu dari nama Niccolo Machiavelli, filsuf asal Italia, yang terkenal melalui satu di antara bukunya, Il Principe (Sang Pangeran). Il Principe menguraikan tindakan yang bisa atau perlu dilakukan seorang seseorang untuk mendapatkan atau mempertahankan kekuasaan.

Kasus terbaru yang kini sedang digeluti KPK adalah dugaan suap dalam proyek Percepatan Pembangunan Infrastruktur Daerah (PPID). Tersangka Wa Ode Nurhayati, politisi Partai Amanat Nasional (PAN), membuka kedok kolaborasi partai politik, DPR, dan pemerintah. Duit sebesar Rp 7,7 triliun pun menjadi bancakan.

Ketua DPR Marzuki Alie, misalnya, disebut menerima Rp 300 miliar. "Semua sudah diplot. Tak ada satu pun daerah yang tak diplot (guna mendapatkan jatah)," katanya.

Sikap yang ditunjukkan sang Ketua DPR dalam menghadapi tuduhan korupsi terasa menggelikan. Sebagaimana ramai diberitakan media massa, Marzuki bahkan siap melakukan sumpah pocong untuk membuktikan dirinya bersih, bebas dari tuduhan menerima suap, sebagaimana yang dilontarkan Wa Ode.

Menggelikan, karena tak selayaknya seorang pimpinan lembaga tinggi negara, yang menjadi tumpuan dari aspirasi rakyat, mengumbar persoalan klenik untuk sebuah proses penegakan hukum.

Ketika perhatian rakyat terbetot pada kasus-kasus korupsi yang sudah begitu menggurita, kita jadi terhentak tatkala mengetahui kabar dari Malaysia yang satu di antara warganya ingin mengangkangi warisan budaya kita, tari Tor-tor. Kemudian, ada kasus penembakan tiga WNI dengan tudingan hendak melakukan prampokan.

Sebagian rakyat tiba-tiba memupuk rasa nasionalismenya dengan mengecam pemerintah Malaysia, bahkan sampai berunjukrasa ke Kedubes maupun Konjen negeri tetangga itu. Harga diri kita sebagai sebuah bangsa yang besar menjadi pertaruhan.

Yang menjadi pertanyaan, mengapa untuk hal-hal yang masih abu-abu seperti itu kita bisa sedemikian cepat naik pitam dan mengumpat serta mengecam, sementara untuk hal-hal yang lebih prinsipil yang terjadi di dalam negeri sendiri, terutama kasus-kasus koprupsi, kita lebih banyak diam dengan menjadi penonton, atau malah menjadi pelakunya sekalian?

Perilaku makiavelis yang sudah bermunculan di mana-mana, dan menjadikan duit rakyat sebagai ladang subur untuk dijarah, seharusnya menjadi perhatian dari seluruh elemen bangsa. Harga diri dan jati diri sebagai bangsa yang besar harus ditegakkan dengan mengikis habis praktik korupsi di segala lini.

Dengan praktik korupsi yang terus merajalela seperti sekarang, sulit bagi kita untuk menegakkan harga diri di mata bangsa lain. (****)

Penulis : Andi Asmadi
Editor : Bowo