Pilgub Jakarta

KBP3 Kaji Pasangan Calon

Dari Polri aktif sendiri saya yakin mereka netral, tapi keluarganya anak istrinya kan ikut coblos

Tayang:
Editor: Jamadin
TRIBUNPONTIANAK.CO.ID, JAKARTA - Perlaksanaan Pilkada DKI Jakarta 2012 tak jauh dari aksi penggalangan suara. Berbagai elemen masyarakat dirangkul para kandidat untuk meningkatkan pundi-pundi suaranya. Salah satu kelompok yang disasar adalah Keluarga Besar Putra dan Putri Polri (KBP3).

Ketua Umum KBP3, Agenanda Djatmika, mengaku pihaknya sudah didekati seluruh kandidat yang mencalonkan diri. Namun, hingga kini, KBP3 masih mengkaji siapakah calon yang akan didukung kelompok ini.

"Sudah semuanya merapat ke kami. Tapi kami masih belum tetapkan putusan. Tanggal 12 Mei, rencananya kami akan deklarasikan siapa calon yang diusung KBP3," ujar Nanda, Selasa (8/5/2012) malam.

Nanda menjelaskan, kelompok KBP3 menjadi incaran kandidat lantaran memiliki simpul suara yang kuat dan tersebar di seluruh Jakarta. "Di seluruh Jakarta ini, ada 40.000 simpul suara, kalau dihitung-hitung satu orang punya 10 keluarga, suara yang bisa kami berikan bisa mencapai 400.000," ujar Nanda.

Kuatnya dukungan dari KBP3, diakuinya, menjadi salah satu mesin dukungan yang dipakai Adang Darajatun dan Dani Anwar dalam Pilkada DKI 2007. Kendati kalah saing dengan Gubernur saat ini Fauzi Bowo dan Prijanto, KBP3, kata Nanda, berhasil menghimpun 600.000 suara kala itu.

"Dari Polri aktif sendiri saya yakin mereka netral, tapi keluarganya anak istrinya kan ikut coblos. Inilah potensi suara yang kami miliki," ujar Nanda.

Sementara untuk Pilkada tahun ini, Nanda menuturkan pihaknya masih belum menetapkan pilihan. Tetapi, ada kriteria utama yang menjadi pertimbangan KBP3, yaitu orang yang sudah mengerti birokrasi.

"Berarti di antara enam calon itu ada tiga pilihannya, yaitu Alex Noerdin, Jokowi, dan Foke karena mereka ini yang sudah berkecimpung di dunia birokrasi," ujarnya.

Nanda mengatakan, pihaknya tidak akan melihat latar belakang Polri/TNI dari tiap kandidat. Menurutnya, latar belakang TNI/Polri sama sekali tidak berpengaruh karena jika sudah purnawirawan maka sama saja seperti masyarakat sipil.

"Yang terpenting adalah orang yang tahu caranya mengatasi persoalan Jakarta dan meneruskan program yang ada. Jangan gonta-ganti program, kapan majunya kalau tiap pemimpin program baru," kata Nanda.

Sumber: Kompas.com
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved