Dumisani Aktivis Antipemerkosaan

Ia pun mengisahkan kembali sekelumit masa-masa terkelam di kehidupannya, yang penuh dengan kekerasan, yang luar biasa.

Dumisani Aktivis Antipemerkosaan
Dumisasi Rebombo

Pemerkosaan, dan kejahatan seksual di Afrika Selatan, telah menjadi wabah menakutkan Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh organisasi masyarakat setempat, setiap 28 detik seorang wanita diperkosa di sana.

Kejamnya, kini hal itu dianggap sebagai hal yang lumrah, meskipun sebuah video dari pemerkosaan brutal terhadap seorang remaja cacat mental beredar di internet bulan lalu.

Terpanggil untuk mengubah takdir bangsanya, Dumisani tampil ke permukaan, bertekad menghapus kekerasan seksual di tanah kelahirannya untuk selama-lamanya, untuk menebus dosa masa lalunya.

Ia pun mengisahkan kembali sekelumit masa-masa terkelam di kehidupannya, yang penuh dengan kekerasan, yang luar biasa. Saat itu ia masih berusia 15 tahun, ketika, teman sebanyanya, mengejeknya dengan panggilan bencong, lantaran ia belum juga memiliki kekasih. Dan tidak seperti layaknya anak laki-laki di desanya, Blinkwater, yang mengembalakan ternak setelah pulang sekolah, Dumisani, biasanya langsung membantu kakak perempuannya selepas pulang sekolah.

"Bencong," ujar anak-anak desa mencemooh dan menantang Dumisani membuktikan kejatanannya.

Untuk membuktikan ia adalah seorang lelaki tulen, teman-temannya menantang dirinya untuk melakukan seks dengan seorang perempuan, secara paksa.
Dua orang temannya, kemudian, telah memilih seorang gadis remaja untuk menjadi target, ia adalah seorang gadis yang pintar melebihi teman-teman di sekolahnya.

Awalnya Dumisani menolak tantangan itu, namun ia menyerah pada tekanan teman sebayanya. "Saya sangat takut karena saya belum pernah berhubungan seks sebelumnya," ujarnya seperti dikutip dari CNN, Selasa (8/4/2012).

Pada suatu hari, tepat pada pukul 5 sore, ia bertemu dengan teman-temannya, meminum bir, merokok ganja. Kemudian mereka mendekati gadis remaja itu dan memperkosanya secara bergantian. Seorang temannya memulai memperkosa gadis itu dan diikuti oleh seorang temannya yang lain, dan terakhir baru dirinya.

Gadis itu terus menjerit dan meronta, minta untuk dilepaskan. Setelah berakhir, ia merasa sangat mengerikan, didera rasa bersalah dan takut bahwa orang tuanya akan mengatahui perbuatannya.

Waktu berlalu, Dumisani akhirnya meninggalkan desanya yang berada di Provinsi Limpopo dan bergabung dengan organisasi keagamaan, dan badan bantuan. Dia belajar tentang menghormati orang lain, anehnya, katanya, ia jarang berpikir tentang gadis yang pernah ia perkosa.

Halaman
12
Ikuti kami di
Editor: Jamadin
Sumber: Tribunnews
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2016
About Us
Help