Sabtu, 22 November 2014
Tribun Pontianak

Dumisani Aktivis Antipemerkosaan

Selasa, 8 Mei 2012 14:00 WIB

Dumisani Aktivis Antipemerkosaan
Dumisasi Rebombo
TRIBUNPONTIANAK.CO.ID, JAKARTA - Waktu telah mengubah seseorang, hal itu sepertinya yang dialami oleh Dumisani Rebombo. Pernah memerkosa seorang perempuan kala ia masih remaja, kini saat dewasa ia aktif mengampanyekan gerakan anti pemerkosaan di kampung halamannya di Afrika Selatan.

Pemerkosaan, dan kejahatan seksual di Afrika Selatan, telah menjadi wabah menakutkan Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh organisasi masyarakat setempat, setiap 28 detik seorang wanita diperkosa di sana.

Kejamnya, kini hal itu dianggap sebagai hal yang lumrah, meskipun sebuah video dari pemerkosaan brutal terhadap seorang remaja cacat mental beredar di internet bulan lalu.

Terpanggil untuk mengubah takdir bangsanya, Dumisani tampil ke permukaan, bertekad menghapus kekerasan seksual di tanah kelahirannya untuk selama-lamanya, untuk menebus dosa masa lalunya.

Ia pun mengisahkan kembali sekelumit masa-masa terkelam di kehidupannya, yang penuh dengan kekerasan, yang luar biasa. Saat itu ia masih berusia 15 tahun, ketika, teman sebanyanya, mengejeknya dengan panggilan bencong, lantaran ia belum juga memiliki kekasih. Dan tidak seperti layaknya anak laki-laki di desanya, Blinkwater, yang mengembalakan ternak setelah pulang sekolah, Dumisani, biasanya langsung membantu kakak perempuannya selepas pulang sekolah.

"Bencong," ujar anak-anak desa mencemooh dan menantang Dumisani membuktikan kejatanannya.

Untuk membuktikan ia adalah seorang lelaki tulen, teman-temannya menantang dirinya untuk melakukan seks dengan seorang perempuan, secara paksa.
Dua orang temannya, kemudian, telah memilih seorang gadis remaja untuk menjadi target, ia adalah seorang gadis yang pintar melebihi teman-teman di sekolahnya.

Awalnya Dumisani menolak tantangan itu, namun ia menyerah pada tekanan teman sebayanya. "Saya sangat takut karena saya belum pernah berhubungan seks sebelumnya," ujarnya seperti dikutip dari CNN, Selasa (8/4/2012).

Pada suatu hari, tepat pada pukul 5 sore, ia bertemu dengan teman-temannya, meminum bir, merokok ganja. Kemudian mereka mendekati gadis remaja itu dan memperkosanya secara bergantian. Seorang temannya memulai memperkosa gadis itu dan diikuti oleh seorang temannya yang lain, dan terakhir baru dirinya.

Gadis itu terus menjerit dan meronta, minta untuk dilepaskan. Setelah berakhir, ia merasa sangat mengerikan, didera rasa bersalah dan takut bahwa orang tuanya akan mengatahui perbuatannya.

Waktu berlalu, Dumisani akhirnya meninggalkan desanya yang berada di Provinsi Limpopo dan bergabung dengan organisasi keagamaan, dan badan bantuan. Dia belajar tentang menghormati orang lain, anehnya, katanya, ia jarang berpikir tentang gadis yang pernah ia perkosa.

Tahun berlalu dan Dumisani akhirnya bekerja di sebuah organisasi kesetaraan gender, di mana ia berbicara dengan para korban perkosaan tentang tahap-tahap emosional yang berbeda yang mereka alami. Saat itulah ia baru memikirkan korbannya. Ia mulai merasa perlu untuk menebus perbuatannya.

Ia pun memutuskan kembali ke kampung halamannya untuk mencari gadis itu, yang kini sudah menikah dan berkeluarga. Ia kemudian merencanakan pertemuan dengannya di sebuah klinik di desa tersebut.
"Saya minta maaf, itu kata pertama saya, yang terucap kepadanya," ujar Dumisani.

Saat itu sangat sentimentil dan penuh gejolak emosi di antara keduanya, air matapun akhirnya tertumpah setelah selama delapan tahun keduanya terdiam menyimpan aib yang telah terjadi.
Dumisani mengaku tidak tahu harus berbuat apa. Ia hanya berdiri di depannya. lalu gadis itu berkata, "Hidup saya tidak pernah sama, setelah itu".

Perempuan itu kemudian mengatakan, dirinya diperkosa sebanyak dua kali, setelah kejadian itu. "Saya merasa bersalah. Saya merasa malu tetapi juga marah pada diriku sendiri bahwa saya pergi melanjutkan hidup, ketika dia tinggal dalam kesengsaraan," kata Dumisani.

Dumisani sekarang sudah menikah dan menetap di wilayah Mpupalanga. Ia bekerja untuk Jaringan Keadilan Gender Sonke sebagai Manajer Nasional "One Man Can," sebuah proyek untuk mempromosikan hubungan yang sehat antara pria dan wanita.

"Kita menghadapi raksasa untuk kita kalahkan, tolong ajarkan putra anda untuk tidak melakukan apa yang pernah saya perbuat," tutupnya.
Editor: Jamadin
Sumber: Tribunnews

TRIBUNnews.com © 2014

About Us

Help

Atas