Golput Simbol Perlawanan Rakyat

Dalam acara yang dihadiri, LSM, Tokoh masyarakat, tokoh agama dan PPK, PPS Desa Kelurahan Kecamatan Delta Pawan.

Tayang:
Penulis: Ali Anshori | Editor: Jamadin
zoom-inlihat foto Golput Simbol Perlawanan Rakyat
Acara focus group discusion (FGD), di Ketapang, Sabtu (28/4/2012)
TRIBUNPONTIANAK.CO.ID, KETAPANG - Fenomena Golput atau kelompok masyarakat yang tidak menggunakan hak pilihnya yang berakibat turunnya partisipasi, pesta demokrasi, merupakan bentuk protes masyarakat terhadap para politisi dan juga partai politik yang menurut masyarakat tidak memberikan manfaat bagi mereka.

"Golput muncul sebagai bentuk perlawanan terhadap sistem politik yang mengekang kebebasan warga atau terkait masalah administrasi seseorang yang tidak dapat menggunakan hak pilihnya," kata Anggota KPU, Alkaf Pasti, acara focus group discusion (FGD), Sabtu (28/4/2012).

Dalam acara yang dihadiri, LSM, Tokoh masyarakat, tokoh agama dan PPK, PPS Desa Kelurahan Kecamatan Delta Pawan. Alkaf menegaskan, Golput sebenarnya merupakan hal yang universal yang terjadi diberbagai negara yang melaksanakan demokrasi elektoralisme.

"Terlepas dari keberadaanya sebagai hak warga negara, keputusan menggunakan atau tidak hak pilih, harusya dipikirkan secara kritis dan cermat serta melihat kepentingan politik dan demokrasi secara luas", tandasnya.

Pada pelaksanaan Pilkada bupati tahun 2010 lalu,  jumlah DPT mencapai, 307.297, dan yang menyalurkan hak suaranya pada putaran pertama, sebanyak 223.341 pemilih, atau 71,68 persen, sedangkan pada putaran kedua, yang menggunakan hak suaranya mencapai 214.397 atau 69,77 persen.

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved