Tragedi Guru Jawab UN

Jangan merasa berkuasa mendidik bangsa, jika gagal mengamalkan pendidikan bermoral, jujur, bermutu dan murah bagi anak bangsa

Tayang:

TRIBUNPONTIANAK.CO.ID - Deklarasi jujur menjalani ujian nasional (UN) siswa SMP di Semarang, dan anti-nyontek di Bandung pekan lalu, begitu membangkitkan harapan baru.

Harapan Indonesia lebih baik dan maju, secara lahir dan batin di masa mendatang. Negeri madani yang terbangun atas dasar generasi cerdas intelektual, emosional dan cerdas spiritual.

Cita-cita dan harapan indah bagi masyarakat Indonesia yang hingga kini tertinggal dari bangsa- bangsa maju di dunia, akibat kurang bermutunya sumber daya manusia.

Di tengah kebangkitan harapan ini, Selasa (24/4/2012), kita bak tersedak menatap guru pengawas UN di MTs Negeri Watampone, Bone, Sulawesi Selatan yang tertangkap basah mengedarkan kunci jawaban kepada peserta ujian.

Sang guru, Siti Salmah tertangkap kamera saat membagikan kunci jawaban Bahasa Inggris. Guru Siti langsung diamankan dan kini harus mempertanggungjawabkan di meja penyidikan polisi.

Semula guru yang lazimnya sikap dan perbuatannya diikuti dan ditiru ini, mengelak. Guru yang sehari-hari mengajar di sekolah Palakka itu akhirnya menyerahkan telepon selulernya.

Terungkap lah pesan singkat berisi kunci jawaban UN. Perbuatan Guru Siti dikuatkan Ical, siswa peserta UN yang menerima jawaban. Tragedi pendidikan, khususnya di Bone dan Indonesia umumnya.

Andai motif pemberian jawaban UN berlatar ekonomi, pastilah tak setimpal dampak buruk ketidakjujuran ini. Ical dan siswa lainnya mungkin akan meraih nilai tertinggi dalam UN, namun sebaliknya nilai moralitasnya.

Jika kenyataan getir ini melanda daerah-daerah lain di Tanah Air, termasuk Kalbar, bukan generasi cerdas lahir batin yang kita petik kelak.

Sebaliknya, negeri kita memasuki era dekadensi moral kronis yang mengancam mencerabut akar nilai-nilai agama dan budaya bangsa. Kecerdasan intelektual tanpa dasar spiritual, telah banyak menciptakan kenestapaan kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegaraa saat ini.

Mental Korup
Di parlemen hampir semua diisi orang-orang cerdas di berbagai bidang keilmuan. Pemerintahan pun sarat orang hebat. Demikian pula pejabat yang mengemban amanah di bidang penegakan hukum dan pengadil hukum.

Namun apa buah karya mereka? Kecerdasan intelektual mereka ternyata lebih menuntun pada pengutamaan kepentingan diri dan golongan. Cerdas mempolitisir peristiawa kehidupan apapun untuk dan demi motif harta dan kekuasaan.

Wajar kemudian, makin banyak kepala daerah dan pejabat pemerintah masuk penjara karena terbukti korupsi. Parlemen, Kejaksaan, pengadilan dan Polri pun kehilangan marwah akibat gurita korupsi.

Pasti semua pejabat korup ini, tercatat beragama di KTP masing-masing. Menjarah harta orang lain, apalagi harta negara, pasti diharamkan Tuhan.

Bagaimana para pejabat yang umumnya "agamis" justru gemar korupsi? Kebohongan dan ketidakjujuran lah jawabannya. Sikap dan perbuatan tak jujur, hakekatnya melawan hukum Allah.

Sikap seperti pasti bukan budaya adi luhung Indonesia. Nenek moyang kita, tak pernah mewariskan kemunafikan, kebohongan dan ketidakjujuran.

Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved