A PHP Error was encountered

Severity: 4096

Message: Object of class stdClass could not be converted to string

Filename: controllers/articles.php

Line Number: 107

A PHP Error was encountered

Severity: Notice

Message: Object of class stdClass to string conversion

Filename: controllers/articles.php

Line Number: 107

A PHP Error was encountered

Severity: Notice

Message: Undefined variable: Object

Filename: controllers/articles.php

Line Number: 107

A PHP Error was encountered

Severity: Notice

Message: Trying to get property of non-object

Filename: controllers/articles.php

Line Number: 107

Veronica Terpesona Aikido - Tribun Pontianak
  • Tribun Network
  • Login
  •  
  •  
  • Tribun JualBeli
Minggu, 31 Agustus 2014
Tribun Pontianak

Veronica Terpesona Aikido

Selasa, 17 April 2012 13:21 WIB
Veronica Terpesona Aikido
Ilustrasi atlet Aikido
TRIBUNPONTIANAK.CO.ID - Di kota-kota besar saat ini banyak kaum perempuan intens latihan beladiri di sela-sela rutinitasnya. Selain bisa digunakan untuk menjaga diri dari tindak kejahatan, beladiri juga diyakini menyehatkan.

Satu di antara perempuan yang intens ikut beladiri adalah Veronica (22). Ia memilih aikido, olahraga beladiri dari Negeri Sakura. Ia memilih aikido karena kelembutan gerakan dan harmonisasi antara pikiran dan jiwa. Veronica melabuhkan pilihannya pada beladiri aikido sejak Juli 2011 dan menjadi keanggotaan resmi Aikido KBAI Pontianak.

Dia mengaku, tak perlu mengeluarkan tenaga yang ekstra saat berlatih teknik aikido karena lebih dominan mengunci gerakan dan melemparkan lawan yang jatuh lantaran tenaga lawan sendiri.

"Aikido merupakan beladiri paling cocok buat perempuan. Aikido itu lembut, tidak perlu banyak mengeluarkan tenaga, teknik perlindungan dan pertahanannya mudah diterapkan tidak hanya oleh lelaki, tetapi perempuan pun bisa," ujarnya saat ditemui di dojo atau tempat berlatih aikido di Sanggar Senam Yanti Jl Nusa Indah 3.

Sebelum berlatih aikido, Veronika sempat berlatih beladiri lain di luar aikido. Namun, diakuinya, teknik beladiri itu banyak menguras tenaga dan lebih mengutamakan kekuatan otot. Semenjak belajar aikido, tampak perbedaan mencolok pada teknik beladiri yang pernah dipelajari Veronika sebelumnya. Hingga saat ini, Veronika konsisten menekuni beladiri aikido dan sudah mencapai tingkatan kyu tiga dengan sabuk berwarna biru.

Menurut Veronika, perubahan secara jasmani sudah dirasakannya. Tubuhnya lebih fresh, bugar. "Aikido efektif untuk menghilangkan stres dan aku lebih percaya diri," ujarnya.

Satu di antara letak ketertarikan Veronika pada aikido adalah penyesuaian teknik aikido dengan kadar tenaga aikidoka. Selain itu, dalam latihan, masing-masing aikidoka berpasangan. "Suasana nyaman dan komunikasi intensif antar-aikidoka saat latihan membuat saya cepat menyerap teknik yang dicontohkan sensei," ungkapnya.
Bangun Harmoni dengan Aikido
Seorang sensei (guru) berputar-putar melingkar bak penari seraya awas memperhatikan gerakan musuh yang terus menguntitnya. Pada sebuah titik atau posisi yang tepat, sang sensei mengunci gerakan musuh dengan teknik tertentu, musuh terpelanting dan tersungkur mencium matras.

Demikian peragaan teknik gerakan dalam seni bela diri aikido yang dipertunjukkan M Irwani ST, Ketua Dewan Guru Aikido Kalimantan Barat saat Tribun berkunjung ke dojo atau tempat latihan Aikido di Sanggar Senam Yanti Jl Nusa Indah 3.

"Dalam aikido, dasar gerakannya adalah melingkar. Hal ini dilakukan untuk menyerap tenaga musuh. Saat berada pada posisi yang tepat kita mengunci gerakan musuh dan melemparnya sehingga musuh terjatuh," ujarnya.

Untuk meminimalkan energi tubuh, digunakan teknik menyusup dan berputar dengan menyerap tenaga yang dikeluarkan lawan. Menyalurkan tenaga lawan untuk kemudian mengalirkannya sehingga serangan yang datang dapat dinetralisasi dengan teknik kuncian dan lemparan merupakan acuan pokok dalam bela diri aikido yang harus dikuasai aikidoka, sebutan untuk orang yang belajar dan berlatih aikido.

"Teknik aikido tidak melakukan eksekusi. Tetapi lebih pada menerima dan menyalurkan energi lawan. Dengan menyalurkan energi lawan, aikidoka tidak menimbulkan konflik baru. Sebab, dalam teknik aikido tak ada teknik melawan dan menentang energi musuh. Saat musuh terjatuh atau terpelanting, itu bukan karena aikidoka, melainkan disebabkan tenaganya sendiri," ungkapnya.

Menurut Irwani, pola atau teknik menentang tenaga musuh hanya mengakibatkan dua tenaga yang saling bertubrukan. Jika sudah bertubrukan maka yang menang ditentukan energi yang kuat. Dalam bela diri aikido tidak mengenal teknik menentang atau meladeni kekerasan. Aikido mengajarkan kelembutan dan keseimbangan sehingga lahir sebuah harmoni yang menjadi kredo dalam aikido.

"Sesuai dengan falsafah aikido yang bermakna keseimbangan tenaga dimana Ai bermakna penyelarasan atau harmoni, Ki bermakna pusat tenaga kehidupan dan Do, jalan untuk membentuk keseimbangan antara fisik dan rohani atau pikiran," jelasnya.

Filosofi aikido digambarkan Irwani seperti laiknya air. Bila air itu kecil kita boleh menahannya tetapi bila aliran air deras dan kuat kita melepaskannya.

Pola latihan dalam bela diri aikido senantiasa saling berpasangan. Hal ini dilakukan untuk melatih murid seolah masuk kedalam pertarungan sebenarnya. Saat latihan, para aikidoka duduk berbanjar. Di depannya sang sensei memberi contoh teknik atau disebut nage kepada salah seorang aikidoka sebagai penerima teknik atau disebut uke.

Setelah dicontohkan teknik, masing-masing aikidoka berlatih berpasangan. Komunikasi dan kerja sama yang baik antarpasangan mutlak diperlukan untuk menciptakan suasana latihan yang sesuai dengan peragaan teknik oleh sensei sehingga antarpasangan memahami serta menguasai cara mengunci dan melempar dengan baik. "Suasana latihan kita buat serileks, sesantai dan setenang mungkin. Sebab, dengan ketenangan dan rasa nyaman, aikidoka lebih cepat menyerap pengetahuan tehnik aikido," katanya.

Kelindan penyatuan antara tubuh, pikiran, dan jiwa untuk melahirkan keseimbangan yang harmonis adalah tujuan dari aikido. Berangkat dari tujuan ini pula, aikido tidak mengenal batasan usia maupun jenis kelamin untuk mempelajarinya. Kelembutan aikido pun tampak dari tenaga yang digunakan dalam gerakan-gerakannya yang tidak terlalu besar.

Selain filosofi menyalurkan tenaga musuh, filosofi lain dalam aikido yakni mengontrol musuh dan mengerti emosi terdalam musuh. Lantaran tak ada teknik menyerang atau menentang energi musuh, secara tidak langsung aikido mengajarkan mengendalikan emosi agar tidak terpancing dengan emosi lawan.

"Kita hanya menerima datangnya energi. Dari situ emosionalitas aikidoka digembleng untuk mencapai pada kesempurnaan rasa. Imbas dari sikap tersebut yakni penumbuhan rasa ikhlas sebab hanya dengan ikhlas seseorang dpt mengikuti kehendak Tuhan atau takdir. Bila menentang, seseorang sebetulnya melawan takdir Tuhan," paparnya.

Irwani yang sudah 12 tahun berlatih aikido begitu terpesona dengan ungkapan pendiri aikido, Morihei Ueshiba. Pendiri itu mengatakan, aku tak pernah takut dengan musuh berapapun jumlahnya, karena hidup dan matiku kuserahkan pada Tuhan. Artinya, kata Irwani, bilapun mati saat berjibaku dengan musuh, itu bukan karena musuh, melainkan kehendak Tuhan.

Aikido mengenal dua tingkatan, yakni tingkat dasar dan tingkat lanjutan. Tingkat dasar terdiri atas enam kyu atau tingkatan. Kyu enam dan lima adalah level pertama dengan sabuk putih. Kyu empat dan tiga bersabuk biru. Sedangkan kyu dua dan satu yang menjadi level tertinggi untuk tingkat dasar menggunakan sabuk cokelat.

Untuk tingkat lanjutan dikenal dengan sebutan dan yang terdiri dari satu hingga delapan tingkatan yang disebut jenjang yudansa. Dalam tingkatan dan, seluruh aikidoka menggunakan sabuk berwarna hitam dan mengenakan celana hitam yang disebut hakama.

"Pelaksanaan ujian untuk tingkatan yudansa sabuk hitam dilaksanakan sekali dalam setahun. Pengujinya adalah sensei dari Jepang yang datang ke Jakarta. Jadi, untuk tingkatan dan, langsung disertifikasi dari Jepang yang menjadi asal bela diri aikido," imbuhnya.

Keunikan lain pada seni beladiri aikido, tidak mengenal pertandingan. Di mata Morihei Ueshiba, yang pertama kali memperkenalkan aikido, pertandingan hanya akan membuat kemurnian gerakan aikido berkurang.

"Meski tak ada pertandingan, setiap tahun biasanya diadakan embukai, sebuah kegiatan yang bertujuan untuk promosi dan perkenalan aikido. Biasanya kegiatan ini berupa seminar aikido dan pertunjukan kemampuan seni beladiri aikido," ujar Irwani yang sudah mencapai tingkatan dan dua.
Pertahanan Diri
Menurut Irwani, dasar beladiri Aikido diadopsi dari teknik beladiri jepang kuno sepeti Jujutsu, Kenjutsu (ilmu pedang), Yarijutsu (ilmu tombak), maupun Jukendo (ilmu pisau). Kemudian, Morihei Ueshiba yang menjadi penemu atau pendiri Aikido pada kisaran 1920 hingga 1960 menggabungkan dan menggubah unsur-unsur teknis dengan modifikasi dan penyempurnaan teknik sehingga terciptalah suatu aliran beladiri yang khas yang kemudian dikenal dengan Aikido.

Menurut Irwani, latihan teknik dalam Aikido dimaksudkan untuk menghadapi musuh yang menggunakan senjata. Mustahil, katanya, seorang Aikidoka, sebutan bagi orang yang belajar Aikido, dapat mengendalikan musuh yang memakai senjata bila Aikidoka tidak belajar tehnik pedang. Filosofi latihan pedang lebih kepada cara atau tehnik menghindar serta mengendalikan musuh, bukan untuk mencederai musuh apalagi membunuh.

"Aikidoka juga diberi latihan menggunakan senjata yang bertujuan untuk mempertahankan diri. Senjata utama yang biasa digunakan adalah jo atau tongkat kayu, boken atau pedang kayu, dan tanto atau pisau," paparnya.

Di Kalbar Sejak 1970
Aikido masuk ke Indonesia yang dibawa putra-putri Indonesia yang belajar ke negeri Jepang pada 1960-an saat era pemerintahan Soekarno berkuasa. Seiring berjalannya waktu, aikido berkembang pesat ke berbagai daerah di Indonesia di bawah naungan organisasi aikido.

Organisasi tersebut yakni Yayasan Keluarga Beladiri Aikido Indonesia (KBAI). Pada 9 November 2002, Kurnia Hidayatullah ST dan M Irwani ST menghubungi serta meminta Ketua Dewan Guru Yayasan KBAI Ir Ferdiansyah Sensei mengenalkan Aikido kepada masyarakat Pontianak. Kala itu, keanggotaan aikido hanya lima orang diantaranya, M Irwani, Ahmad Suryani, Cecep Ardiansyah, Sony Yanto dan Muhammad Atta.

Guru Besar Aikido Indonesia Ir Ferdiansyah sensei datang kembali ke Pontianak pada 16 Agustus 2003 dan pada saat itulah pengurus cabang Aikido Provinsi Kalbar terbentuk. Pembentukan organisasi Aikido di Kalbar diprakarsai banyak praktisi-praktisi beladiri di Pontianak seperti Dedy Ruslie, Syafrudin, M Yusuf Dolek, Agus Salim dan beberapa praktisi lainnya.

Saat ini keanggotaan Aikido KBAI Pontianak berjumlah 30 orang yang berasal dari berbagai kalangan. Di antaranya ada mahasiswa, pengusaha, pedagang, pegawai negeri dan beberapa elemen lain. Sedangkan dewan guru berjumlah enam orang yang bertingkat dan satu dan dan dua. (ful/Tribun Pontianak cetak)

Pendaftaran KBAI Pontianak
* Tempat latihan Sanggar Senam Yanti Jl Nusa Indah 3
* Pendaftaran saat jadwal latihan Senin dan Kamis pukul 19.30-21.30
* Mengisi formulir pendaftaran anggota
* Lampirkan pas foto warna ukuran 3x4 cm 2 lembar.
* Serahkan fotokopi KTP atau kartu identitas 1 lembar.
* Biaya pendaftaran sebesar Rp 230.000 (mendapat seragam latihan dan lambang Aikido KBAI)
* Iuran bulanan Rp 50 ribu
Penulis: Saiful Bahri
Bagi apa yang Anda baca dengan teman Anda.
  | Social:    ON Social:    OFF | Option
0 KOMENTAR
15021 articles 10 0
Loading...
Sebelum memberikan komentar, silahkan login menggunakan
TERBARU
TERBARU
TERLAMA
TERKOMENTARI
TRIBUNnews.com © 2014 About Us Help
Atas