Kampanye Terbuka Lebih Murah
Sabtu, 14 April 2012 20:01 WIB

TRIBUN PONTIANAK/GALIH NOFRIO NANDA
Anggota DPD RI asal Ketapang, Erma Suryani Ranik SH
Anggota DPD RI asal Ketapang, Erma Suryani Ranik SH
Berita Terkait
- Badan Kehormatan Pastikan PAW Anggota DPRD
- Banjir di Cikini, Arus Lalulintas Macet
- Camat Berharap Amplop
- KPU Temukan Banyak Dukungan Ganda Pada Caleg DPR RI
- Rusdiansyah Tak Menduga Jadi Anggota DPRD
- Rusdiansyah Takut Mengecewakan Rakyat
- DPRD Pontianak Punya Dua Wajah Baru
- Bacaleg Tertadaftar di Dua Parpol
- Amin: Kinerja Legislatif Akan Menurun
- Tak Terdaftar Caleg Hengkcy Kirim SMS ke Presiden
TRIBUNPONTIANAK.CO.ID, PONTIANAK - Ongkos politik sebesar Rp 2 miliyar yang dijadikan sebagai persyaratan untuk mejadi anggota DPRD secara nasional dinilai oleh anggota DPD, Erma Suryani Ranik terlalu berlebihan.
Dikatakannya, sistem proporsional terbuka sejatinya lebih banyak positifnya dibandingkan dengan sistim tertutup.
"Malah dengan sistim terbuka, maka biaya kampanye dapat menjadi lebih murah, soalnya peluang orang lokal untuk terpilih menjadi anggota DPRD lebih besar, nah kalau orang lokal yang kampanye kan banyak yang bantu," ujarnya kepada Tribunpontianak.co.id. (14/4/2012).
Erma mengatakan dirinya sangat mendukung penerapan sistim proporsional terbuka tersebut karena akan lebih memberi kesempatan kepada masyarakat untuk memilih calon yang mereka kenal dan percaya.
"Jadi dengan sistim seperti ini bukan seperti beli kucing dalam karung, rakyat dapat memilih orang yang mereka kenal dan percaya untuk mewakili aspirasi mereka di legislatif, bukan titipan DPP," tandasnya.
Dikatakannya, sistem proporsional terbuka sejatinya lebih banyak positifnya dibandingkan dengan sistim tertutup.
"Malah dengan sistim terbuka, maka biaya kampanye dapat menjadi lebih murah, soalnya peluang orang lokal untuk terpilih menjadi anggota DPRD lebih besar, nah kalau orang lokal yang kampanye kan banyak yang bantu," ujarnya kepada Tribunpontianak.co.id. (14/4/2012).
Erma mengatakan dirinya sangat mendukung penerapan sistim proporsional terbuka tersebut karena akan lebih memberi kesempatan kepada masyarakat untuk memilih calon yang mereka kenal dan percaya.
"Jadi dengan sistim seperti ini bukan seperti beli kucing dalam karung, rakyat dapat memilih orang yang mereka kenal dan percaya untuk mewakili aspirasi mereka di legislatif, bukan titipan DPP," tandasnya.
Editor : Jamadin
Sumber : Tribun Pontianak
