Sabtu, 22 November 2014
Tribun Pontianak

Krisis Kasih Sayang Pejabat

Jumat, 6 April 2012 01:23 WIB

Krisis Kasih Sayang Pejabat
ISTIMEWA
Anggota Banser berjaga di depan Gereja Bethel Injil Sepenuh (GBIS) Kepunton, Solo, 27 September 2011 lalu. Aparat keamanan bersama sejumlah organisasi masyarakat meningkatkan keamanan berbagai gereja di Kota Solo, pascaledakan bom bunuhdiri di GBIS yang melukai 21 jemaat.
TRIBUNPONTIANAK.CO.ID - Jumat, 5 April 2012 ini, segenap umat Kristiani di dunia memperingati Wafatnya Isa Almasih atau dalam Kristen, Yesus Kristus.

Kendati peringatan rutin tahunan, kali ini relatif impresif. Ada spirit kebersamaan mengarungi kehidupan antarumat bergama di berbagai daerah.

Benih-benih kedamaian kali ini terjadi di Nusa Dua, Bali. Para petugas keamanan desa adat atau pecalang turut membantu mengamankan rangkaian perayaan Paskah di Gereja Paroki Maria Bunda Segala Bangsa, kawasan Puja Mandala.

Tak hanya pecalang yang beragama Hindu. Para pengurus takmir masjid setempat, berbagi bersama dalam pengamanan perayaan Paskah. Saling bantu dan tolong-menolong ini, mengingatkan era KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur).

Jauh sebelum reformasi, mantan Ketua Umum PBNU dan Presiden RI ini, telah meletakkan sendi-sendi toleransi antarumat beragama yang kokoh.

Bukan hal aneh, anggota Banser menjaga gereja-geraja di Jawa, manakala umat Kristiani menunaikan peribadatan. Sungguh indah dan mulia, jika kita mampu mengamalkan kehidupan damai dalam keberagaman seperti ini.

Perbedaan sejatinya rahmat yang dianugerahkan Tuhan Yang Maha Esa. Tak satu pun di antara kita, mampu mengubahnya. Oleh karena rahmat adalah karya maha agung Allah Maha Kuasa.

Para pendiri bangsa kita memahami ini, dalam kosmis Indonesia yang beraneka agama, suku, ras dan asal usul. Bhineka Tunggal Ika pun dilekatkan dalam cengkeraman kuku Garuda Pancasila, lambang negara kita.

Hanya kenaifan, manakala masih ada di antara kita terusik perbedaan dalam agama. Isu tak tepat dalam ruang dan waktu global saat ini. Di mana pun manusia tinggal di suatu negara, bukan utamanya mempersoalkan perbedaan.

Sebaliknya, saling menemukan hubungan bermakna dari perbedaan dalam kehidupan bersama. Kita yang tinggal di Kalbar, sepatutnya lebih mampu memaknai hikmah pluralisme dalam persaudaraan se-Khatulistiwa.

Kesejahteraan Abadi
Apa pun agamanya, kita tak bisa memungkiri sama-sama ciptaan Tuhan Maha Esa. Sungguh tepat tema yang diangkat Uskup Agung Semarang, Mgr Johanes Pujasumarta kali ini. Melalui spirit Paskah kita bangun budaya kehidupan dengan kasih dan pengampunan.

Memang, hanya kasih sayang yang mampu membuka hubungan indah di antara sesama. Dalam Islam, kita mengenal sifat Allah SWT, ar-Rahman dan ar-Rahim. Allah Maha Pengasih dan Penyayang.

Kecurigaan berlebihan, su'udzon hingga fitnah antarsesama, hanya menjauhkan kita dari Tuhan. Manakala terjadi kekhilafan, bahkan kesalahan di antara kita, lazimnya kita mengamalkan sifat Allah Yang Maha Sabar, As Shabuur.

Berpijak kesabaran, kita akan beroleh kejernihan berpikir, baik secara lahir maupun batin. Cara bermusyawarah mufakat untuk menemukan solusi baik dalam masalah bisa kita amalkan.

Prinsipnya, tak seorang pun manusia, tak pernah luput dari salah dan khilaf. Begitulah hukum Ilahi. Oleh karena itu kita diperintahkan saling menyayangi, karena Allah Maha Mengasihi, al Waduud.

Apabila kita termasuk orang-orang yang takut larangan Allah, dan cinta perintah-Nya, niscaya kita murah memaafkan sesama yang salah atau khilaf. Allah Maha Pengampun, al Ghafuur.

Jika kita sebagai warga bangsa mampu mengamalkan semua perintah Allah, pastinya kehidupan bangsa dan negara tak serumit sekarang.

Otokritik mulia bagi kita, terutama para pejabat pengemban amanat rakyat. Cukup lah berpolitik yang tak membawa manfaat rakyat. Hentikan dan taubat untuk dan demi Allah.

Hampir bisa dipastikan, pemimpin amanah, murah cinta kasih dan penuh maaf, mampu membawa bangsa dan negara di jalan lurus menuju kebenaran yang haq. Aman, damai dan sejahtera pun terwujud di dunia maupun akhirat. (*)

TRIBUNnews.com © 2014

About Us

Help

Atas