Tolak Kenaikan BBM

Warga Kesal Antre BBM

Antrean panjang di SPBU memantik keprihatinan pengusaha Kalbar, Herry Sutjiarto.

Tayang:
Editor: Jamadin

TRIBUNPONTIANAK.CO.ID, PONTIANAK - Menjelang 1 April 2012, antrean panjang kendaraan sudah mulai terlihat di berbagai Stasiun Pengisian Bahan Bakar untuk Umum (SPBU) di Kota Pontianak dan juga di daerah. Panjang antrean sampai empat kali dari kondisi normal.

Antrean panjang di SPBU memantik keprihatinan pengusaha Kalbar, Herry Sutjiarto. Ia menilai, kebijakan pemerintah untuk menaikkan harga BBM tidak mengempati kepentingan masyarakat kecil.

"Pemerintah seolah-olah tahu yang dilakukannya. Tapi, ternyata tidak. Buktinya, masyarakat kecil yang jadi korban," katanya kepada Tribun, Rabu (28/3).

Ia mengingatkan, Kalbar sudah sangat akrab dengan kelangkaan BBM. Bahkan di daerah, banyak SPBU yang kosong. Banyak warga yang tidak terlayani, dan akhirnya terpaksa membeli BBM di pengecer yang harganya jauh lebih tinggi.

"Ini terjadi karena pemerintah memakai dualisme harga BBM, subsidi dan nonsubsidi, untuk masyarakat umum dan industri. Kondisi ini yang rentan terjadi penyimpangan dan penyelewengan. Jatah subsidi kemudian dijual untuk kebutuhan industri," ujarnya.

Ia mengusulkan agar untuk kekayaan alam yang dikuasai oleh negara, sejatinya tidak menggunakan diferensiasi harga seperti pada BBM. Jangan lagi ada subsidi dan nonsubsidi. Cukup disepakati harga di antara kedua harga tersebut.

"Harga subsidi dan nonsubsidi ditambah, kemudian dibagi dua. Harga itulah yang dipakai. Dengan satu harga ini, penyelewengan bisa diminimalisasi," katanya.

Tidak hanya itu, kelangkaan BBM di masyarakat, juga tidak terlepas dari pengelolaan yang kurang baik. Mulai dari hulu sampai ke hilir. Praktik menjual BBM dan gas ke luar negeri masih kerap ditemukan dilakukan di tengah laut.

"Kalau sumberdaya manusianya tidak bagus, ya jadinya begini. Padahal, kalau dikelola dengan baik, rasanya akan tercukupi. Apalagi kita punya banyak kilang minyak," katanya.

Ia mengatakan yang penting bagi masyarakat, termasuk pengusaha adalah ketersediaan pasokan BBM yang memadai. Dengan begitu, masyarakat tidak susah, dan pengusaha bisa menjalankan aktivitas bisnisnya dengan baik.

Antre 20 Menit

Antrean panjang terlihat di sepanjang Jl  KH Ahmad Dahlan hingga memakan badan jalan. Petugas SPBU lapangan pun mengatur tertibnya antrian.

Lili, satu di antara pengantre, mengaku sudah 20 menit mengantre. Ia akan mengisi tangki motornya yang memang sudah kering.

Pengantre lainnya, Ibrahim, terlihat kesal. "Saya mau jemput anak sekolah, bensin habis, takut anak lapar nunggu lama,"
ungkapnya.

Walaupun emosi, Ibrahim tetap saja mengatre sampai ia mendapat giliran. "Mau bagaimana lagi, saya orang biasa saja, kalau beli eceran Rp 20 ribu belum tentu penuh. Terpaksalah saya tunggu sampai keringatan," katanya.

Antrrean panjang diakui Mahadi, Pengawas Lapangan SPBU 6478103 Jl KH Ahmad Dahlan. Ia mengatakan, antrean terjadi sejak pagi.  "Pokoknya, antrean mulai sejak mobil tangki datang sampai sekarang," bebernya.

Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved