Dihamili Ayah, NR Pasrah Tuhan

Saya akan tetap merawat anak saya dan adik-adik. Saya sudah pasrah apapun yang terjadi. Mau apa lagi, sudah terlanjur dengan kondisi ini.

Tayang:

TRIBUNPONTIANAK.CO.ID, SAMBAS - NR (18), korban incest (hubungan sedarah) yang dilakukan oleh ayah kandungnya sendiri, berkali-kali mengusap airmata ketika Tribun mewawancarai di kediamannya di sebuah dusun di Kecamatan Salatiga, Kabupaten Sambas, Sabtu (3/3). Ia mengaku memaafkan perbuatan ayahnya.

Perut NR terlihat sudah membuncit. Usia kandungannya sudah memasuki bulan kelima. Selama wawancara dengan Tribun, beberapa kali ia mengusapnya. Ia mengaku sangat menyayangi sang jabang bayi, meski kini ayah sang bayi sedang dalam proses hukum.

"Saya maafkan kesalahan ayah yang telah melakukan perbuatan itu kepada diri saya. Saya pasrah pada keadaan nasib. Saya akan melahirkan bayi ini dan merawatnya dengan baik,"  ujar NR sembari menghapus airmata yang meleleh di pipinya.

NR, sebagaimana berita Tribun, adalah korban incest yang dilakukan oleh ayahnya sendiri, MH (39). MH kini sudah ditangkap dan menjalani proses di Polres Sambas, sebelum kasusnya dilimpahkan ke kejaksaan hingga ke pengadilan.

NR menceritakan, kejadian itu bermula pada September 2011 silam. "Saat itu, sekitar jam sebelas malam, saya sedang tidur. Saya tidur bersama tiga adik saya, sedangkan dua adik saya lainnya tidur di samping ayah," tuturnya.

Tiba-tiba, MH mendatanginya, dan membangunkan NR. MH mengajak NR melakukan hubungan badan. "Saya tolak, tapi karena ayah terus mendesak, akhirnya saya pasrah," katanya.

Ketika sang ayah tuntas menyalurkan nafsu bejatnya, NR menangis menyesali apa yang terjadi. Sang ayahnya dilihatnya sempat tercenung, seperti linglung.

Setelah kejadian itu, hubungan antara ayah dan anak itu berjalan seperti biasa, seolah tidak pernah terjadi apa-apa. NR juga tidak menceritakan kepada siapapun. Seiring perjalanan waktu, NR hamil. Itu diketahuinya seusai memeriksakan diri di puskesmas. Saat itu, usia kehamilannya sudah tiga bulan. Ia pun menyampaikan kepada sang ayah, yang sontak kaget.

Waktu terus berjalan, hingga akhirnya kehamilan NR sudah mulai tampak. "Saya tidak tahu juga siapa orang yang melaporkan kejadian ini ke polisi. Saya tak pernah melaporkan ayah. Saya terkejut ketika polisi mendatangi rumah dan menangkap ayah," katanya.

Menurut NR, ayahnya tidak pernah kasar kepada dirinya. NR mengaku mereka hanya sekali melakukan hubungan intim. "Pada saat melakukan hubungan itu, ayah tidak pernah mengancam, apalagi mengancam menggunakan pisau. Meski demikian, saya tak menyangka kenapa ayah tega melakukannya, entah setan apa yang merasuki ayah saat itu," ujarnya.

NR merasa, dengan kasus yang sudah terungkap, ia tidak bisa berbuat apa-apa lagi. "Saya akan tetap merawat anak saya dan adik-adik. Saya sudah pasrah apapun yang terjadi. Mau apa lagi, sudah terlanjur dengan kondisi ini. Saat ini saya masih tergantung sama nekwan (nenek-Red) yang menemani kami," katanya.

NR sebenarnya merasa malu dengan kondisi kehamilan yang sudah memasuki lima bulan dengan perut yang membuncit. "Malu sih, namun mau apa lagi. Saya jalani nasib saya, dan saat ini saya hanya menjaga adik-adik yang masih sekolah," ujarnya.

NR menggunakan baju kaos berkerah bewarna merah dan celana pendek jeans menggendong adiknya yang bungsu. Ia sudah putus sekolah sejak tamat SD. Ibu kandungnya meninggal dunia 10 bulan lalu, saat melahirkan adiknya yang bungsu.

NR mempunyai beberapa adik, yakni IM (14) yang masih duduk di kelas enam SD, TM (11) kelas tiga SD, dan NS (7), serta terakhir si bungsu Flora yang masih berusia sepuluh bulan.

 HB (59), nenek korban, mengaku terkejut atas apa yang telah terjadi antara anak dengan cucu kandungnya. "Saya tak menyangka kalau MH saya berbuat tak senonoh kepada anaknya sendiri. Padahal, dia rajin salat, meskipun salat di rumah sendiri dan jarang ke masjid," katanya sambil menangis.
MH, kata dia, bekerja tidak tetap dan hanya mengambil upahan.

"Kadang mengambil upah nebas, upah berkebun jeruk, dan kelapa. Biasa juga dia bertanam padi kecil-kecilan," katanya. Kini, dengan ditangkapnya MH, tinggal HB yang menemanu NR dan adik-adiknya. Ia mencoba bertahan dengan penghasilan  Rp 30 ribu, dan kadang Rp 15 ribu, sehari untuk memberi makan cucu-cucunya.

Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved