A PHP Error was encountered

Severity: 4096

Message: Object of class stdClass could not be converted to string

Filename: controllers/articles.php

Line Number: 107

A PHP Error was encountered

Severity: Notice

Message: Object of class stdClass to string conversion

Filename: controllers/articles.php

Line Number: 107

A PHP Error was encountered

Severity: Notice

Message: Undefined variable: Object

Filename: controllers/articles.php

Line Number: 107

A PHP Error was encountered

Severity: Notice

Message: Trying to get property of non-object

Filename: controllers/articles.php

Line Number: 107

Hakim Agung Tuna Keagungan - Tribun Pontianak
  • Tribun Network
  • Login
  •  
  •  
  • Tribun JualBeli
Rabu, 3 September 2014
Tribun Pontianak

Hakim Agung Tuna Keagungan

Rabu, 1 Februari 2012 01:32 WIB
Hakim Agung Tuna Keagungan
MATANEWS
Ilustrasi
TRIBUNPONTIANAK.CO.ID - Rasmiah Binti Rawan, sang pembantu rumahtangga terhenyak, begitu mendengar putusan hakim Mahkamah Agung (MA).

Berdasarkan relas putusan yang dikirim MA melalui juru sita Pengadilan Negeri (PN) Jakarta Utara, Rasminah dinyatakan terbukti bersalah mencuri enam piring majikannya, Siti Aisyah Margaret Soekarnoputri, Juni 2010.

Perempuan berusia 55 tahun itu diganjar hukuman penjara selama 130 hari. Lama hukuman yang sama persis dengan masa penahanan yang dijalani Rasminah, sebelum permohonan penangguhan penahanan dikabulkan hakim.

Kendati tak lagi perlu menjalani hidup di balik bui, putusan MA ini mengundang kontroversi, sekaligus mencuatkan keprihatinan mendalam. Kontroversi, karena mekanisme kasasi berlangsung tak fair.

Penasihat hukum Rasminah dari LBH Mawar Saron, Jefri Moses Kam, tak tahu-menahu pengajuan kasasi Kejaksaan Negeri Tangerang, setelah Rasminah dibebaskan PN Tangerang, 22 Desember 2010.

Hingga akhir batas waktu 14 hari pengajuan memori kasasi, Jefri Moses Kam yang sempat menunggui di pengadilan, meyakinkan tak ada pengajuan kasasi masuk. Tiba-tiba keluar putusan MA atas kasasi Nomor 653K/Pid.2011 yang diterima MA, 24 Januari 2011.

Isi putusan MA tertanggal 31 Mei 2011, mengabulkan permohonan kasasi jaksa Kejari Tangerang dan membatalkan putusan PN Tangerang yang membebaskan Rasminah dari jerat hukum.

Terungkap kemudian, surat pemberitahuan kasasi dikirim ke rumah yang tak ditempati lagi Rasminah. Surat itu dititipkan perangkat kelurahan setempat. Potret proses peradilan yang tak lazim, bahkan jauh dari supremasi keadilan yang diimpikan masyarakat.

Lazimnya, jika hakim yang sering dianalogkan wakil Tuhan di dunia, mengutamakan keadilan dibanding menjadi "tukang" penegak peraturan. Sebandingkah enam piring dengan hukuman 130 hari bagi warga Indonesia yang dikenal ramah dan memiliki sifat tolong-menolong tinggi? Tentu tidak!

                                                                                           Krisis Moral
Perbuatan pencurian enam piring, lazimnya cukup diselesaikan melalui musyawarah mufakat. Putusan MA ini makin menambah daftar panjang produk kelam peradilan. Keadilan di negara kita semakin "teramat mahal."

Sebelumnya, publik sempat terkaget-kaget ketika Nenek Minah diganjar sebulan 15 hari penjara dengan masa percobaan tiga bulan. Nenek Minah diputus bersalah, gara-gara iseng memetik tiga buah kakao di perkebunan PT Rumpun Sari Antan, Jawa Tengah, November 2009.

Senasib Nenek Minah, Basar Suyanto (40) dan Kholil (49). Kedua pria Kediri. Jawa Timur itu, dipenjara selama 15 hari dengan masa percobaan sebulan, karena mencuri sebuah semangka di Kota Kediri. Di mana sejatinya nurani hakim kita? 

Perilaku kaum hakim kian membuat kita kehilangan kepercayaan, menyusul isu santer tentang satu suara hakim agung dalam pemilihan Ketua Mahkamah Agung beberapa hari terakhir. Konon, satu suara hakim agung dihargai Rp 5 miliar.

Apakah nurani hakim negeri ini telah terbeli? Semoga masih ada hakim amanah dan adil. Kita berharap tersisa hakim-hakim yang takut melanggar sumpah jabatan. Hakim yang lebih takut lagi, mempertanggungjawabkan semua perbuatannya di hadapan Allah kelak.

Berulangnya putusan hakim ganjil ala Rasminah, memberi indikasi kuat terjadinya krisis orientasi kaum pengetuk palu di pengadilan. Fenomena yang menggenapi dekadensi aparatur penegak hukum, baik di tingkat Kejaksaan maupun Kepolisian.

Andai polisi khilaf mengamalkan supremasi keadilan, jaksa sepatutnya tak turut kehilangan nurani. Faktanya, jaksa justru mengajukan kasasi setelah Rasminah dibebaskan PN Tangerang.

Sinyal runtuhnya supremasi keadilan di negeri berbudaya adi luhung. Yang membuat kita was-was, keruntuhan hukum dan keadilan ini, mengkristal bersamaan kerusakan moral para pejabat negara, baik di parlemen maupun pemerintahan.

Negeri kita bak di ambang runtuh. Haruskah republik ini memasuki beranda reformasi jilid dua? Saatnya segenap pejabat, cepat sadar dan taubat. Mari bangkit untuk menyelamatkan negeri tercinta! (*)
Bagi apa yang Anda baca dengan teman Anda.
  | Social:    ON Social:    OFF | Option
0 KOMENTAR
10327 articles 10 0
Loading...
Sebelum memberikan komentar, silahkan login menggunakan
TERBARU
TERBARU
TERLAMA
TERKOMENTARI
TRIBUNnews.com © 2014 About Us Help
Atas