Tribun Pontianak
Ujian Pertama Soliditas KPK
Senin, 30 Januari 2012 02:43 WIB
Share |
Pimpinan-KPK-1.jpg
IST
Pimpinan KPK

KABAR mengenai perpecahan di antara pimpinan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) sungguh mengusik kepercayaan rakyat terhadap lembaga superbodi tersebut.

Apalagi, menurut kabar yang menyebar melalui BlackBerry Messenger (BBM) sejak pertengahan pekan lalu, perpecahan terjadi saat rapat penentuan status tersangka terhadap Ketua Umum DPP Partai Demokrat Anas Urbaningrum.

Ketua KPK Abraham Samad dan dua wakil ketua, Zulkarnaen dan Adnan Pandu Praja, dikabarkan ngotot menjadikan Anas tersangka dengan bukti-bukti yang ada. Sedangkan dua wakil ketua lainnya, Busyro Muqoddas dan Bambang Widjojanto, menolak menandatangani surat penahanan.

Abraham sudah menyampaikan bantahan. Ia menegaskan, pimpinan KPK tetap kompak dan solid. "Kami pimpinan sudah bukan sahabat lagi, melainkan sudah kayak saudara, kayak perangko," katanya dalam jumpa pers di Gedung KPK, Kamis (26/1/2012). Ketika ditanya soal peristiwa pukul meja sampai pecah, ia balik bertanya, "Apakah Anda hadir pada saat itu dan melihat kejadiannya?"

Apapun yang terjadi, benar atau tidak, kabar itu menjadi warning bagi KPK. Jika benar terjadi, maka perlu langkah konsolidasi secepatnya untuk kembali menyatukan kelima pimpinan KPK.

Dalam kondisi apapun, perbedaan pendapat pasti akan selalu ada, bahkan dengan kondisi yang sangat tajam. Selama perbedaan itu masih berada dalam koridor, tak akan jadi  masalah. Apalagi, KPK tentu punya mekanisme sendiri untuk menyelesaikan perbedaan itu.

Tetapi, perdebatan sekeras apapun, jika itu terjadi dalam rapat internal KPK, selayaknya tidak bocor keluar dan menjadi "santapan" para politikus. Kalau sampai keluar, isu akan digoreng ke sana ke mari hingga menjadi bola liar yang tak terkendali.

Jika pun ternyata kabar itu tidak benar, maka selayaknya KPK sejak sekarang sudah harus berhati-hati. Menyeruaknya kabar melalui BBM itu pertanda ada pihak yang sedang mengutak- atik KPK dengan berbagai motif.

Bisa jadi untuk menimbulkan ketidaknyamanan di antara para pimpinan KPK sehingga tidak solid lagi dalam membuat keputusan. Bisa pula dengan tujuan yang lebih besar, yakni melemahkan KPK, agar kasus-kasus korupsi yang sedang ditangani tidak terselesaikan dengan baik.

Tentu saja kita berharap kelima pimpinan KPK jangan sampai benar-benar pecah, atau terjadi friksi yang sangat tajam, sehingga memengaruhi proses pengambilan keputusan.

Harapan besar rakyat saat ini bertumpu pada kemimpinan kolektif kolegial dengan Ketua Abraham Samad dan empat wakil ketua: Busyro Muqoddas, Bambang Widjojanto, Adnan Pandu Pradja, dan Zuklarnaen.

Kita pun percaya, kabar yang menyebar lewat BBM itu, dan dengan cepat "ditangkap" oleh politisi Senayan, sesungguhnya hanyalah kabar sampah yang dimaksudkan untuk mengganggu kinerja para pimpinan KPK. Apalagi, KPK saat ini sedang menangani begitu banyak kasus besar yang melibatkan seabrek-abrek politisi.

Misalnya, kasus Wisma Atlet, dengan tersangkan mantan Bendahara Umum DPP Partai Demokrat Muhammad  Nazaruddin. Kasus ini melibatkan mantan anak buah Nazaruddin, Mindo Rosalina Manullang, Sekretaris Kemenpora Wafid Muharram, dan pihak pengusaha, Mohammad El Idris.

Belakangan, penyelidikan kasus ini melebar dan nama sejumlah poltisi pun ikut terkait, seperti Ketua Umum DPP Partai Demokrat Anas Urbaningrum, Menpora Andi Mallarangeng, Wakil Sekjen DPP Partai Demokrat Angelina Sondakh, dan sejumlah politisi lainnya. (****)

Penulis : Andi Asmadi
Editor : Marlen Sitinjak