Petani Rotan Resah, Harga Turun
Sabtu, 28 Januari 2012 23:25 WIB

FOTO: PONTI ANA BANJARIA
TRIBUNPONTIANAK.CO.ID, BUNTOK- Kalangan petani rotan di Kabupaten Barito Selatan (Barsel), Kalimantan Tengah (Kalteng) sangat resah karena harga rotan turun drastis akibat adanya kebijakan tentang pelarangan ekspor rotan dari pemerintah pusat.
"Larangan ekspor rotan yang diberlakukan pemerintah pusat membuat harganya turun drastis, kami sebagai petani rotan merasa kehilangan banyak pendapatan dibandingkan sebelum adanya kebijakan pemerintah tersebut," kata seorang petani rotan di Barsel Diyanti, di Buntok, Sabtu (28/1/2012).
Menurutnya, sebelum larangan ekspor rotan diberlakukan, harga rotan per kwintal mencapai Rp250 ribu, sedangkan setelah dilarang melakukan ekspor harganya hanya Rp100 ribu per kwintal.
Meski harganya turun dranstis, hal itu juga mengakibatkan pembelinya sangat sedikit, sehingga dampaknya tingkat perekonomian para petani rotan menjadi turun.
"Kami merasa harga rotan yang saat ini sangat tidak sesuai dengan harga barang-barang kebutuhan pokok di Barsel," ucapnya.
Ia mengatakan, akibat turunnya harga jual rotan, pihaknya harus berpikir keras mencari usaha tambahan. Namun sayangnya para petani rotan di Barsel rata-rata memiliki tingkat keterampilan yang minim, sehingga sulit ketika harus mencari pekerjaan sampingan lain.
"Kalau untuk makan saja masih kurang, belum lagi yang lain seperti biaya sekolah, dan keperluan rumah tangga. Oleh sebab itu, kami mengharapkan Pemerintah Kabupaten Barsel bisa segera mencarikan solusi bagi para petani rotan," ujarnya.
Pihaknya menjelaskan, apabila tidak ada solusi maka dapat dipastikan tingkat perekonomian petani rotan di kawasan setempat akan turun, bahkan jumlah penduduk miskin dapat bertambah.
Secara terpisah, salah satu pembeli atau pengumpul rotan Barsel Misran mengungkapkan, turunnya harga rotan disamping larangan ekspor tersebut juga diakibatkan pihak pembeli dari Banjarmasin, Kalimantan Selatan, hanya membeli rotan ukuran sof 48 dan sof 811, sedangkan ukuran kubu 811 tidak dibeli.
"Permasalahannya adalah pembeli dari luar daerah berkurang, dan hanya ukuran tertentu saja yang diambil, sedangkan sisanya tidak laku untuk dijual lagi," terangnya.
"Larangan ekspor rotan yang diberlakukan pemerintah pusat membuat harganya turun drastis, kami sebagai petani rotan merasa kehilangan banyak pendapatan dibandingkan sebelum adanya kebijakan pemerintah tersebut," kata seorang petani rotan di Barsel Diyanti, di Buntok, Sabtu (28/1/2012).
Menurutnya, sebelum larangan ekspor rotan diberlakukan, harga rotan per kwintal mencapai Rp250 ribu, sedangkan setelah dilarang melakukan ekspor harganya hanya Rp100 ribu per kwintal.
Meski harganya turun dranstis, hal itu juga mengakibatkan pembelinya sangat sedikit, sehingga dampaknya tingkat perekonomian para petani rotan menjadi turun.
"Kami merasa harga rotan yang saat ini sangat tidak sesuai dengan harga barang-barang kebutuhan pokok di Barsel," ucapnya.
Ia mengatakan, akibat turunnya harga jual rotan, pihaknya harus berpikir keras mencari usaha tambahan. Namun sayangnya para petani rotan di Barsel rata-rata memiliki tingkat keterampilan yang minim, sehingga sulit ketika harus mencari pekerjaan sampingan lain.
"Kalau untuk makan saja masih kurang, belum lagi yang lain seperti biaya sekolah, dan keperluan rumah tangga. Oleh sebab itu, kami mengharapkan Pemerintah Kabupaten Barsel bisa segera mencarikan solusi bagi para petani rotan," ujarnya.
Pihaknya menjelaskan, apabila tidak ada solusi maka dapat dipastikan tingkat perekonomian petani rotan di kawasan setempat akan turun, bahkan jumlah penduduk miskin dapat bertambah.
Secara terpisah, salah satu pembeli atau pengumpul rotan Barsel Misran mengungkapkan, turunnya harga rotan disamping larangan ekspor tersebut juga diakibatkan pihak pembeli dari Banjarmasin, Kalimantan Selatan, hanya membeli rotan ukuran sof 48 dan sof 811, sedangkan ukuran kubu 811 tidak dibeli.
"Permasalahannya adalah pembeli dari luar daerah berkurang, dan hanya ukuran tertentu saja yang diambil, sedangkan sisanya tidak laku untuk dijual lagi," terangnya.
Editor : Jamadin
Sumber : Antara
