Mendidik Anak Cerdas Lahir Batin
Kemuliaan bangsa, jika kaum orangtua menjadikan anak cerdas lahir batin, bermoral mulia dan bhakti pada orangtua dan sesama
TRIBUNPONTIANAK.CO.ID - Peristiwa kaburnya model cilik, Ruvita Sari Siahaan, 9 Januari 2012 lalu, tak ubahnya drama sarat makna kehidupan.
Pelajaran hidup, terutama bagi orangtua di tengah kehidupan global yang "lebih" mendewakan materi daripada nilai-nilai religi dan budaya.
Vita, sapaan akrab Ruvita Sari, nekat kabur ke Sorong, Papua Barat bukan tanpa sebab. Kenekatan model iklan berusia 13 tahun ini, berlatar tekanan psikis hebat dari ibunya, Ny Lily.
Setelah ditemukan polisi di rumah orangtua angkatnya, Bunda Maya di Sorong, Kamis (26/1/2012) sore, Vita mengaku sering dipukul ibunya kalau menolak syuting.
Tak sampai di situ, sang ibunda "terlalu" mengatur selera dan kehidupan anak. Mulai urusan busana hingga rileks (jalan-jalan), Vita perlu menangis. Vita pun mengalami memar akibat pukulan sang ibu, manakala model iklan cokelat pasta itu pulang pukul 21.00 WIB.
Sang Ibu tak mengelak, mengakui pernah juga menarik rambut Vita dan menjepret kaki putrinya menggunakan karet. Benarkah cara orangtua pada buah hatinya ini? Prinsipnya, tak seorang orangtua pun di muka bumi, ingin menzalimi anak kandungnya.
Harimau yang paling buas sekalipun, tak pernah memakan anak-anaknya, meski kelaparan. Kaum sufi psikologi maupun agama, justru meyakini cinta orangtua kepada anak, lebih besar dibanding cinta anak kepada orangtuanya.
Hikayat Malin Kundang, contoh tepat dalam adat budaya Nusantara kita. Secara religi, misalnya di Islam, Rasulullah SAW sangat penyayang pada anak-anak, baik keturunan sendiri maupun anak orang lain.
Abu Hurairah ra meriwayatkan, suatu ketika Rasulullah mencium Hasan bin Ali dan di dekatnya ada Al-Aqra bin Hayis At-Tamimi. Ia kemudian berkata, "Aku memiliki sepuluh anak dan tak pernah aku mencium seorang pun dari mereka."
Rasulullah SAW memandang padanya dan berkata, "Barangsiapa yang tidak mengasihi (anak), maka ia tak akan dikasihi." (HR Bukhari di Kitab Adab, hadits No 5538). Apa artinya?
Teladan Orangtua
Jika orangtua dalam keluarga-keluarga Indonesia amanah, mengamalkan nilai-nilai agama sebagai dasar hidup, tak akan terjadi kasus seperti Vita maupun lainnya.
Agama apapun, prinsipnya mengajarkan kebaikan dan mengatur hubungan benar orangtua dan anak. Kasus anak kabur, bahkan pernah dialami Puteri Indonesia 2009, Qory Sandioriva.
Ibunda Qory perlu minta bantuan Polri untuk menjemput paksa putrinya saat pemotretan. Dua tahun lalu juga, artis Arumi Bachsin bikin heboh karena kabur dari orangtuanya. Meski masalahnya beda, ada kesamaan substansi.
Ada paksaan atau kemutlakan orangtua mengatur putra-putrinya. Andai anak melanggar nilai religi, hukum dan budaya, cara orangtua tetap wajib bijak. Cara keras, apalagi disertai kekerasan fisik, justru menjauhkan pemahaman anak dari kekeliruannya.
Daya pikir anak yang belum dewasa, tentu tak setara orang dewasa. Anak yang telah dewasa pun tak harus dikerasi, apabila khilaf maupun salah. Cara pendekatan "menyenangkan" hati anak, justru efektif dan produktif memahamkan anak dan menanamkan nilai benar, tanpa harus meluapkan emosi.
Patut kita ingat, secara religi ada empat kejahatan orangtua yang wajib dihindarkan. Pertama, apabila suka memaki dan menghina anak sendiri, melebihkan anak dari yang lain, mendoakan keburukan anak, dan tidak memberi pendidikan anak.