Toyota "Terpukul" di Negeri Kanguru
Selasa, 24 Januari 2012 15:56 WIB

IST
Inspeksi produk di pabrik Altona, Australia
Inspeksi produk di pabrik Altona, Australia
TRIBUNPONTIANAK.CO.ID, ALTONA - Toyota Motor Corporation (TMC) terpaksa harus memulangkan 350 pekerja di pabrik Altona, Victoria, Australia.
Efisiensi menjadi opsi utama Toyota karena tekanan nilai tukar dollar Australia yang terus menguat, plus pengaruh krisis global berakibat menurunnya permintaan pasar domestik Negeri Kanguru.
"Dalam situasi dan kondisi ini, sekaligus langkah antisipasi pasar, opsi ini perlu dilakukan. Tak mungkin kami bisa mempertahankan jumlah pekerja dalam kondisi normal," beber Max Yasuda, Presiden sekaligus CEO Toyota Australia, seperti dilansir Carscoop, Senin (23/1/2012).
Kondisi juga diperburuk dengan terus menurunnya pasar ekspor utama, seperti kawasan Timur Tengah, karena terpengaruh krisis keuangan global. Saat ini, Toyota mempekerjakan 4.683 orang di Australia dan tengah mengalami penurunan volume produksi menjadi 94.000 unit pada 2011 dari puncak 149.000 unit yang dicapai 2007. Tahun ini, Toyota memprediksi produksi hanya sekitar 95.000 unit.
"Kenyataannya, volume kami memang turun. Apa yang kami sempat kira sebagai situasi sementara berubah menjadi permanen. Penurunan 36 persen dalam empat tahun menunjukkan skala kemampuan kami bertahan," beber Yasuda. Di pabrik Altona, Toyota memproduksi sedan Camry dan Aurion untuk dipasok untuk pasar lokal dan ekspor.
Subsidi
Produsen mobil di Australia saat ini juga meminta subsidi dana pinjaman agar bisa menghindari aksi PHK massal. Awal bulan ini, pemerintah sudah mencairkan dana 34 juta dollar Australia untuk Ford Motor Company demi mempertahankan usaha merek Amerika itu di "Aussie". Pemerintah juga sedang bernegosiasi dengan General Motors untuk membantu mengamankan produksi Holden.
Sementara itu, Toyota masih harus menunda pertolongan. "Saya yakin Toyota sudah mencari opsi lain untuk menghindari PHK terhadap pekerja ahli. Namun realitas penguatan nilai tukar dollar Australia sama saja menunjukkan pelemahan pasar ekspor Toyota. Mereka berusaha tetap menjaga agar kapasitas pabrik Altona tetap," beber Kim Carr, Menteri Manufaktur Australia.
Efisiensi menjadi opsi utama Toyota karena tekanan nilai tukar dollar Australia yang terus menguat, plus pengaruh krisis global berakibat menurunnya permintaan pasar domestik Negeri Kanguru.
"Dalam situasi dan kondisi ini, sekaligus langkah antisipasi pasar, opsi ini perlu dilakukan. Tak mungkin kami bisa mempertahankan jumlah pekerja dalam kondisi normal," beber Max Yasuda, Presiden sekaligus CEO Toyota Australia, seperti dilansir Carscoop, Senin (23/1/2012).
Kondisi juga diperburuk dengan terus menurunnya pasar ekspor utama, seperti kawasan Timur Tengah, karena terpengaruh krisis keuangan global. Saat ini, Toyota mempekerjakan 4.683 orang di Australia dan tengah mengalami penurunan volume produksi menjadi 94.000 unit pada 2011 dari puncak 149.000 unit yang dicapai 2007. Tahun ini, Toyota memprediksi produksi hanya sekitar 95.000 unit.
"Kenyataannya, volume kami memang turun. Apa yang kami sempat kira sebagai situasi sementara berubah menjadi permanen. Penurunan 36 persen dalam empat tahun menunjukkan skala kemampuan kami bertahan," beber Yasuda. Di pabrik Altona, Toyota memproduksi sedan Camry dan Aurion untuk dipasok untuk pasar lokal dan ekspor.
Subsidi
Produsen mobil di Australia saat ini juga meminta subsidi dana pinjaman agar bisa menghindari aksi PHK massal. Awal bulan ini, pemerintah sudah mencairkan dana 34 juta dollar Australia untuk Ford Motor Company demi mempertahankan usaha merek Amerika itu di "Aussie". Pemerintah juga sedang bernegosiasi dengan General Motors untuk membantu mengamankan produksi Holden.
Sementara itu, Toyota masih harus menunda pertolongan. "Saya yakin Toyota sudah mencari opsi lain untuk menghindari PHK terhadap pekerja ahli. Namun realitas penguatan nilai tukar dollar Australia sama saja menunjukkan pelemahan pasar ekspor Toyota. Mereka berusaha tetap menjaga agar kapasitas pabrik Altona tetap," beber Kim Carr, Menteri Manufaktur Australia.
Editor : Marlen Sitinjak
Sumber : Kompas.com
