Rayakan Imlek dengan Sederhana
Senin, 23 Januari 2012 01:24 WIB

TRIBUN PONTIANAK/ GALIH NOFRIO NANDA
Masyarakat Pontianak berkumpul di Jalan Gajahmada menyaksikan pesta kembang api, Minggu (22/1). Perayaan malam tahun baru Imlek di Pontianak terpusat di Jalan Gajahmada.
Masyarakat Pontianak berkumpul di Jalan Gajahmada menyaksikan pesta kembang api, Minggu (22/1). Perayaan malam tahun baru Imlek di Pontianak terpusat di Jalan Gajahmada.
Berita Terkait
- Panitia Imlek Bersama Minta Maaf
- Cap Go Meh Berdampak Positif
- Warga Singkawang Tumpah Ruah
- Monterado Mula Cap Go Meh
- Khironoto Bantah Tionghoa Eksklusif
- Tatung Wanita Tertua Ikut Beraksi
- Jakius Ajak Masyarakat Jaga Kebersamaan
- Tokoh Penting Hadiri Perayaan Imlek
- Kecewa Cap Go Meh Ditiadakan
- Sadis, Tatung Singkawang Dilarang
WARGA Tionghoa merayakan Tahun Baru Imlek 2563 pada Senin (23/1/2012) ini. Nuansa Imlek sudah terasa sejak beberapa hari silam, dan semakin kental dalam satu dua hari belakangan ini.
Satu di antara kemeriahan Imlek yang menjadi ciri khusus dalam perayaan setiap tahun adalah hingar bingar kembang api di langit serta kehadiran ornamen-ornamen khas Imlek, terutama lampion, di berbagai sudut kota.
Bagi warga Tionghoa, Imlek merupaka momen yang sangat penting untuk dirayakan, yang dimulai pada hari pertama bulan pertama di penanggalan Tionghoa, dan berakhir dengan Cap Go Meh pada tanggal ke-15 (pada saat bulan purnama).
Momen Minggu (22/1/2012) malam kemarin merupakan malam pergantian tahun, sebagaimana layaknya pergantian dari 31 Desember ke 1 Januari dalam penanggalan Masehi.
Kita bersyukur, kini Imlek bisa dirayakan tanpa rintangan apapun. Dulu, Imlek pernah pernah dilarang dirayakan di depan umum oleh pemerintah pada kurun waktu 1968-1999.
Larangan itu tertuang dalam Instruksi Presiden Nomor 14 Tahun 1967, tatkala pemerintahan masih di bawah rezim Orde Baru. Baru pada tahun 2000 di bawah pemerintahan Presiden Abdurrahman Wahid, Inpres Nomor 14/1967 dicabut.
Perayaan Imlek mulai hidup dengan keluarnya Keppres Nomor 19/2001 tertanggal 9 April 2001 (juga di bawah pemerintahan Abdurrahman Wahid), yang meresmikan Imlek sebagai hari libur fakultatif (hanya berlaku bagi mereka yang merayakannya). Kemudian, di bawah pemerintahan Presiden Megawati Soekarnoputri, Imlek ditetapkan sebagai hari libur nasional.
Dalam kondisi kekinian, kita tentu sama berharap, perayaan Imlek, yang kemudian dilanjutkan dengan Cap Go Meh, berlangsung lancar dan aman. Kita pun tentunya juga berharap perayaannya tidak dilakukan secara berlebihan, bermewah-mewah, apalagi berfoya-foya. Dengan merayakannya secara sederhana, berbalut keikhlasan dan kebersamaan, niscaya Imlek akan lebih memberi makna positif bagi setiap umat.
Dengan demikian, tali silaturahmi antarsesama bisa terjaga dengan baik. Ini relevan dengan tema perayaan Imlek secara nasional, yakni Insan Beriman dan Luhur Budi, Hidup Rukun Meski Berbeda.
Seluruh umat, tak hanya warga Tionghoa, selayaknya mempererat kerjasama antarsesama dalam menjaga ketertiban dan keamanan, terutama saat umat Buddha dan umat Konghucu menjalankan sembahyang.
Sangat penting untuk merayakan Imlek secara sederhana. Sebagaimana kita ketahui bersama, kondisi bangsa kita saat ini belum sepenuhnya terlepas dari keprihatinan. Masih banyak saudara-saudara kita di pelosok tanah air yang hidup dalam kemiskinan. Pada sisi lain, praktik korupsi masih merajalela, baik di lingkup pemerintahan, DPR, maupun lembaga lain.
Tak hanya lingkup nasional, di Kalbar pun masyarakat kita masih banyak yang hidup dalam keprihatinan. Mereka hidup dalam serba kekurangan. Uluran tangan dari saudara-saudara kita, tak peduli suku, agama, ras, maupun golongannya, akan menjadi sangat bermakna. Bahkan, mereka pun bisa saja ikut merasakan kemeriahan Imlek dari saudara-saudaranya yang beriman dan luhur budi.
Merayakan Imlek, dan juga Cap Go Meh secara sederhana dalam balutan keikhlasan dan kebersamaan, menjadi keniscayaan. Di tahun naga air, kita sama-sama berharap Kalbar dan juga bangsa kita mendapat limpahan rezeki, keamanan, dan kenyamanan dalam hidup.
Satu di antara kemeriahan Imlek yang menjadi ciri khusus dalam perayaan setiap tahun adalah hingar bingar kembang api di langit serta kehadiran ornamen-ornamen khas Imlek, terutama lampion, di berbagai sudut kota.
Bagi warga Tionghoa, Imlek merupaka momen yang sangat penting untuk dirayakan, yang dimulai pada hari pertama bulan pertama di penanggalan Tionghoa, dan berakhir dengan Cap Go Meh pada tanggal ke-15 (pada saat bulan purnama).
Momen Minggu (22/1/2012) malam kemarin merupakan malam pergantian tahun, sebagaimana layaknya pergantian dari 31 Desember ke 1 Januari dalam penanggalan Masehi.
Kita bersyukur, kini Imlek bisa dirayakan tanpa rintangan apapun. Dulu, Imlek pernah pernah dilarang dirayakan di depan umum oleh pemerintah pada kurun waktu 1968-1999.
Larangan itu tertuang dalam Instruksi Presiden Nomor 14 Tahun 1967, tatkala pemerintahan masih di bawah rezim Orde Baru. Baru pada tahun 2000 di bawah pemerintahan Presiden Abdurrahman Wahid, Inpres Nomor 14/1967 dicabut.
Perayaan Imlek mulai hidup dengan keluarnya Keppres Nomor 19/2001 tertanggal 9 April 2001 (juga di bawah pemerintahan Abdurrahman Wahid), yang meresmikan Imlek sebagai hari libur fakultatif (hanya berlaku bagi mereka yang merayakannya). Kemudian, di bawah pemerintahan Presiden Megawati Soekarnoputri, Imlek ditetapkan sebagai hari libur nasional.
Dalam kondisi kekinian, kita tentu sama berharap, perayaan Imlek, yang kemudian dilanjutkan dengan Cap Go Meh, berlangsung lancar dan aman. Kita pun tentunya juga berharap perayaannya tidak dilakukan secara berlebihan, bermewah-mewah, apalagi berfoya-foya. Dengan merayakannya secara sederhana, berbalut keikhlasan dan kebersamaan, niscaya Imlek akan lebih memberi makna positif bagi setiap umat.
Dengan demikian, tali silaturahmi antarsesama bisa terjaga dengan baik. Ini relevan dengan tema perayaan Imlek secara nasional, yakni Insan Beriman dan Luhur Budi, Hidup Rukun Meski Berbeda.
Seluruh umat, tak hanya warga Tionghoa, selayaknya mempererat kerjasama antarsesama dalam menjaga ketertiban dan keamanan, terutama saat umat Buddha dan umat Konghucu menjalankan sembahyang.
Sangat penting untuk merayakan Imlek secara sederhana. Sebagaimana kita ketahui bersama, kondisi bangsa kita saat ini belum sepenuhnya terlepas dari keprihatinan. Masih banyak saudara-saudara kita di pelosok tanah air yang hidup dalam kemiskinan. Pada sisi lain, praktik korupsi masih merajalela, baik di lingkup pemerintahan, DPR, maupun lembaga lain.
Tak hanya lingkup nasional, di Kalbar pun masyarakat kita masih banyak yang hidup dalam keprihatinan. Mereka hidup dalam serba kekurangan. Uluran tangan dari saudara-saudara kita, tak peduli suku, agama, ras, maupun golongannya, akan menjadi sangat bermakna. Bahkan, mereka pun bisa saja ikut merasakan kemeriahan Imlek dari saudara-saudaranya yang beriman dan luhur budi.
Merayakan Imlek, dan juga Cap Go Meh secara sederhana dalam balutan keikhlasan dan kebersamaan, menjadi keniscayaan. Di tahun naga air, kita sama-sama berharap Kalbar dan juga bangsa kita mendapat limpahan rezeki, keamanan, dan kenyamanan dalam hidup.
Penulis : Andi Asmadi
Editor : Marlen Sitinjak
Sumber : Tribun Pontianak
