Sambut Imlek

Hio Paling Banyak Dicari di Imlek

Toko Sari Rasa yang beralamat di Jl Gajahmada yang menjual perlengkapan sembayang ramai dikunjungi warga.

Tayang:
Kurang lebih 10 hari lagi perayaan Hari Raya Imlek yang jatuh pada 23 Januari ini. Berbagai persiapan dilakukan masyarakat Tionghoa di Kota Pontianak untuk menyambut pergatian tahun tersebut.

Toko Sari Rasa yang beralamat di Jl Gajahmada yang menjual perlengkapan sembayang ramai dikunjungi warga. Pengunjung yang mayoritas masyarakat Tionghoa tersebut membeli perlengkapan untuk merayakan Imlek.

Dewi (27) pemiliki tokoh menuturkan dalam sebulan terakhir pengunjung yang datang ke tokohnya meningkat. Para pengunjung bukan hanya sekadar berkunjung untuk melihat-lihat barang-barang dagangannya, tetapi mereka datang kebanyakan untuk berbelanja keperluan sembayang menyambut perayaan Tahun Baru Imlek ini.

Keperluan sembayang yang sering dibeli pengunjung dalam bulan-bulan ini menurut Agustina (22) adik Dewi adalah hio atau gaharu, lilin dari ukuran yang paling terkecil hingga yang paling besar, lampu lempion, serta uang kertas untuk dibakar pada saat mereka sembayang.

"Dalam bulan-bulan ini yang paling banyak dibeli orang memang lima macam ini. Kalau yang lainnya masih belum terlalu banyak. Tapi biasanya dua atau tiga hari jelang Imlek lebih ramai lagi dari hari-hari sekarang," ujar Agustina sambil melayani pembeli yang sedang membeli hio.
Barang-barang yang dijual di tokohnya ini juga kebayakan dari Sumatera tetapnya Medan.

Kemudian ada juga yang berasal dari daerah Jawa seperti lilin yang berukur besar. Dari kelima jenis keperluan sembayang umat Tionghoa ini harganya juga sangat bervariasi. Mulai dari yang terendah seperti hio dijual perbungkusnya Rp 1.000 hingga Rp 300.000. Sedangkan lilin dari Rp 1.500 perpasangnya hingga Rp 1.000.000. Kemudian uang kertas dijual dari Rp 3.000 hingga Rp 60.000, dan lampu lampion dijual dari Rp 15.000 hingga ratusan ribu.

Jika dibandingkan jumlah pengunjung tahun lalu dengan tahun ini, Dewi menuturkan ada penigkatan, tetapi belum tentu jumlah pendapatan juga menigkat. Sebab, menurutnya menjual barang-barang ini sangat besar resikonya. misalnya ada yang retak saja sudah tidak ada yang mau membelinya. Sehingga seharusnya bisa mendapat keuntungan malah rugi.

"Kalau untuk semetara kita persentasekan adalah penigkatan pendapatan sekitar 20 hingga 30 persen dibandingkan tahun lalu. Biasanya tiap tahun banyak orang bagun klenteng maupun pekong, sehingga keperluannya pun juga akan menigkat untuk membeli perlengkapan sembayangnya," ujar Dewi.

Lili (43) satu di antara warga Jl Gajahmada yang membeli menuturkan kalau dia sudah sering belanja keperlauan sembayang di tokoh Dewi. Sebab, menurutnya barang-barang yang dijualnya banyak pilihan dan barang-barangnya juga bukan hanya dari lokal, hampir rata-rata dari luar daerah. Sehingga mutu dan kualitasnya tidak diragukan lagi dibangdingkan dengan buatan lokal.

"Mungkin sudah enam sampai delapan tahunan kali saya belanja keperlauan sembayang di toko ini. Sebab, menurut saya keperluan sembahyang yang kita perlukan di sini lengkap. Selain itu juga dari segi kualitasnya tidak perlu diragukan, sebab barang yang dijual di toko ini rata-rata dari luar Kalimantan sehingga kualitasnya tidak perlu saya ragukan lagi," ujar Lili saat mau membeli hio dan uang kertas.

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved