Kerja Berat demi Pendidikan Anak
Kamis, 22 Desember 2011 11:01 WIB
Berita Terkait
- Untan Miliki 55 Ha Kebun Pendidikan
- Bupati harus Turun Langsung
- Pendidikan Poin Utama Pembangunan
- Bupati Janji Tingkatkan Pendidikan
- Mahasiswa Demo DPRD Kalbar
- Pemprov Dianggap Zolimi Pendidikan
- Pendidikan Kalbar Tertinggal
- Seminar Pendidikan Politik Digelar
- Disdik Gratiskan Biaya Komite
- Pontianak Model Pendidikan Integritas
TRIBUNPONTIANAK.CO.ID, PONTIANAK - Susunan batako hasil kerja Anida (32) sudah bertingkat lima. Jumlahnya sekitar 150-an batako. Itulah hasil kerjanya setengah hari pada Selasa (20/12) kemarin saat dikunjungi Tribun. Anida mengaku harus berjuang seorang diri demi membiayai anaknya yang kini duduk di bangku SMK.
Dengan cekatan, Anida memasukkan adukan pasir dan semen pada cetakan di hadapannya. Sesekali ia pukul menggunakan kayu untuk memadatkan isi cetakan itu.
Lalu ia buka cetakan dan meletakkan hasilnya di susunan batako yang berada di sisi kirinya. Begitulah setiap hari perempuan yang biasa disapa Ani melakukan pekerjaan yang jarang dikerjakan perempuan.
Anida tidak sendiri, di tempatnya bekerja terdapat tiga orang perempuan lainnya yang menjadi pembuat batako di satu industri di Jl Sei Raya Dalam.
Mereka menggantungkan hidupnya dengan pekerjaan tersebut demi menambah pundi-pundi penghasilan untuk kebutuhan rumah tangga serta biaya sekolah anak. Pagi-pagi ia berangkat dengan rumahnya di asrama di Parit Tengkorak.
"Macam mana lagi, kalau tidak kerja, nanti anak saya tidak sekolah. Kasihan dia," ujar Ani yang kini berstatus janda. Pengalaman pribadinya membuat ia tegar memeras keringat. Ia mengaku putus sekolah dan sudah bekerja sejak berusia 15 tahun, mulai bekerja di pabrik, penjaga toko, menjadi kuli bangunan, dan akhirnya menjadi pembuat batako.
"Ini anak saya. Sekarang ini uang sekolah tidak bisa menunggak. Kalau tak bayar nanti dia minder pula terus tak mau sekolah. Saya ingin nanti dia dapat kerja bagus yang tidak berat macam saya," ujar Ani dengan suara lirih.
Hal senada juga dituturkan oleh Erna (37). Ibu dari tujuh anak ini harus berangkat dengan sepeda kayuh dari rumahnya di Parit Baru. Dua orang anak yang sudah duduk di bangku SMP dan tiga orang masih di SD, dan dua lainnya masih di rumah menjadi tanggungan yang berat karena pendapatan sang suami belum cukup memenuhi kebutuhan semuanya.
Awalnya ia sempat dilarang oleh suami untuk ikut kerja bangunan. Tetapi, ia memaksanakan diri agar bisa ikut bekerja demi menambah pendapatan keluarga. Dan akhirnya, ia pun memilih menjadi pencetak batako yang hasilnya, menurut Erna, labih baik daripada harus menjadi pelayan toko ataupun pembantu rumah tangga.
"Biarlah orang mau bilang apa. Saya lebih suka kerja di sini dari pada harus jadi tukang cuci atau pembantu. Kalau tukang cuci paling sehari hanya Rp 10 ribu. Sebulan hanya Rp 300 ribu. Kalau kerja di sini, seminggu saya bisa dapat Rp 400 ribu lebih, bos kami pun baik," ujarnya.
Rata-rata sehari mereka mampu membuat 400 lebih batako. Untuk satu batako, mereka mendapatkan Rp 150 atau Rp 60 ribu untuk setiap 400 batako yang berhasil dicetak.
Dalam sehari, mereka bisa mencetak lebih dari 400 batako setiap orangnya. Dengan pendapatan tersebut, mereka mengaku lebih baik kerja membuat batako.
Berbeda pula dengan Yulia, perempuan yang paling tua di antara karyawan yang ada. Dia adalah pekerja harian yang memiliki banyak tugas. Selain bertugas menata batu bata yang sudah kering dan siap dijual, Yulia kerap menjadi kernet dari truk yang mengantarkan batako ke para pelanggan.
"Tak apalah saya kerja berat begini. Biar berat pun, saya bisa mendapatkan uang dengan cara yang baik. Bos saya pun baik. Kadang kami sering dibelikan makan. Kalau kami butuh uang, kami bisa bon dulu," ucapnya lagi.
Masih banyak perempuan-perempuan lainnya yang memilih pekerjaan kasar demi menghidupi keluargnya. Mereka harus melakukan itu demi kebutuhan keluarga, membiaya sekolah anak, serta kebutuhan-kebutuhan lainnya. Potret kehidupan modern ini, tidak lantas membuat mereka serta merta menyalahkan zaman.
"Kami ini tidak mungkin pula nak kerja enak macam orang-orang. Sekolah saja tak sampai SMA. Biarlah kami begini, mudah-mudahan anak-anak kami tidak dapat kerja susah nanti," ucap mereka penuh harap.
Dengan cekatan, Anida memasukkan adukan pasir dan semen pada cetakan di hadapannya. Sesekali ia pukul menggunakan kayu untuk memadatkan isi cetakan itu.
Lalu ia buka cetakan dan meletakkan hasilnya di susunan batako yang berada di sisi kirinya. Begitulah setiap hari perempuan yang biasa disapa Ani melakukan pekerjaan yang jarang dikerjakan perempuan.
Anida tidak sendiri, di tempatnya bekerja terdapat tiga orang perempuan lainnya yang menjadi pembuat batako di satu industri di Jl Sei Raya Dalam.
Mereka menggantungkan hidupnya dengan pekerjaan tersebut demi menambah pundi-pundi penghasilan untuk kebutuhan rumah tangga serta biaya sekolah anak. Pagi-pagi ia berangkat dengan rumahnya di asrama di Parit Tengkorak.
"Macam mana lagi, kalau tidak kerja, nanti anak saya tidak sekolah. Kasihan dia," ujar Ani yang kini berstatus janda. Pengalaman pribadinya membuat ia tegar memeras keringat. Ia mengaku putus sekolah dan sudah bekerja sejak berusia 15 tahun, mulai bekerja di pabrik, penjaga toko, menjadi kuli bangunan, dan akhirnya menjadi pembuat batako.
"Ini anak saya. Sekarang ini uang sekolah tidak bisa menunggak. Kalau tak bayar nanti dia minder pula terus tak mau sekolah. Saya ingin nanti dia dapat kerja bagus yang tidak berat macam saya," ujar Ani dengan suara lirih.
Hal senada juga dituturkan oleh Erna (37). Ibu dari tujuh anak ini harus berangkat dengan sepeda kayuh dari rumahnya di Parit Baru. Dua orang anak yang sudah duduk di bangku SMP dan tiga orang masih di SD, dan dua lainnya masih di rumah menjadi tanggungan yang berat karena pendapatan sang suami belum cukup memenuhi kebutuhan semuanya.
Awalnya ia sempat dilarang oleh suami untuk ikut kerja bangunan. Tetapi, ia memaksanakan diri agar bisa ikut bekerja demi menambah pendapatan keluarga. Dan akhirnya, ia pun memilih menjadi pencetak batako yang hasilnya, menurut Erna, labih baik daripada harus menjadi pelayan toko ataupun pembantu rumah tangga.
"Biarlah orang mau bilang apa. Saya lebih suka kerja di sini dari pada harus jadi tukang cuci atau pembantu. Kalau tukang cuci paling sehari hanya Rp 10 ribu. Sebulan hanya Rp 300 ribu. Kalau kerja di sini, seminggu saya bisa dapat Rp 400 ribu lebih, bos kami pun baik," ujarnya.
Rata-rata sehari mereka mampu membuat 400 lebih batako. Untuk satu batako, mereka mendapatkan Rp 150 atau Rp 60 ribu untuk setiap 400 batako yang berhasil dicetak.
Dalam sehari, mereka bisa mencetak lebih dari 400 batako setiap orangnya. Dengan pendapatan tersebut, mereka mengaku lebih baik kerja membuat batako.
Berbeda pula dengan Yulia, perempuan yang paling tua di antara karyawan yang ada. Dia adalah pekerja harian yang memiliki banyak tugas. Selain bertugas menata batu bata yang sudah kering dan siap dijual, Yulia kerap menjadi kernet dari truk yang mengantarkan batako ke para pelanggan.
"Tak apalah saya kerja berat begini. Biar berat pun, saya bisa mendapatkan uang dengan cara yang baik. Bos saya pun baik. Kadang kami sering dibelikan makan. Kalau kami butuh uang, kami bisa bon dulu," ucapnya lagi.
Masih banyak perempuan-perempuan lainnya yang memilih pekerjaan kasar demi menghidupi keluargnya. Mereka harus melakukan itu demi kebutuhan keluarga, membiaya sekolah anak, serta kebutuhan-kebutuhan lainnya. Potret kehidupan modern ini, tidak lantas membuat mereka serta merta menyalahkan zaman.
"Kami ini tidak mungkin pula nak kerja enak macam orang-orang. Sekolah saja tak sampai SMA. Biarlah kami begini, mudah-mudahan anak-anak kami tidak dapat kerja susah nanti," ucap mereka penuh harap.
Penulis : Abd Rahman Mawazi
Editor : Marlen Sitinjak
Sumber : Tribun Pontianak
