• Tribun Network
  • Login
  •  
  •  
  • Tribun JualBeli
Rabu, 22 Oktober 2014
Tribun Pontianak

Ombak Kalbar Telan 3 Kapal

Minggu, 4 Desember 2011 02:56 WIB
Ombak Kalbar Telan 3 Kapal
ISTIMEWA
Ilustrasi
TRIBUNPONTIANAK.CO.ID, KETAPANG - Cuaca ekstrem yang melanda Kalimantan Barat, merenggut nyawa M Saleh Kapten Kapal Express Cargo Super Mitra 3 jurusan Pontianak-Ketapang di perairan Ketapang, sekitar pukul 23.30 WIB, Jumat (2/12).

Jenazah M Saleh ditemukan Tim SAR, Sabtu (3/12), setelah kapal pengangkut Sembako dan bahan bangunan dari Pontianak, tenggelam lautan lepas sekitar 10-12 mil dari Ketapang. Lima awak kapal lainnya, diselamatkan Tim SAR dan nelayan.

Sedangkan juru minyak kapal, Munjirin hingga kemarin belum ditemukan. Kapal naas ini dihantam gelombang tinggi. Terjangan gelombang yang diperkirakan mencapai lebih dari dua meter membuat oleng kapal.

Gelombang tinggi yang datang mendadak ini, bersamaan dengan hujan lebat disertai angin kencang yang melanda Bumi Khatulistiwa. Tujuh awak kapal, termasuk almathum M Saleh langsung mengenakan pelampung, begitu ombak perdana menerjang.

Ketika mencoba menghalau laju kapal, terjangan gelombang lebih dahsyat menghantam. Air laut pun memasuki dek hingga menyebabkan kapal miring ke kiri. Hanya hitungan detik, hantaman gelombang berikutnya membuat terpelanting semua awak kapal.

Kapal yang membawa Sembako dan bahan bangunan yang belum diketahui nilainya ini, langsung tenggelam di tengah malam. "Saya tak mengira tiba-tiba kapal yang sudah banyak airnya, miring ke kiri. Saat kami mencoba menyedot air pakai mesin, ombak besar kembali menghantam," tutur
Juru Mudi Kapal, Suyud di RS Bersalin Fatima Ketapang.

Pria berusia 60 tahun ini sebelum diselamatkan Tim SAR, sempat terapung-apung di lautan bebas sekitar 13 jam. Tim SAR menemukannya di sekitar perairan Sei Awan sekitar pukul 14.00, kemarin. Kondisi warga Kota Pontianak ini pun amat lemah.

Suyud mengaku matanya perih akibat terkena air laut setelah terombang-ambing di laut lepas. Badannya direjang pegal dan kedinginan. Ayah empat anak ini sempat berjuang menghalau laju kapal bersama enam awak kapal lainnya di saat kapal miring.

"Kami masih berpegangan di bagian atas kapal, namun tiba-tiba saja ombak besar datang dan menghantam kapal kami lagi. Saat itulah kami terhempas dari kapal, tercebur ke laut," ungkapnya.

Dua Tugboat
Begitu tercebur, Suyud terpisah dari rekan-rekannya. Suyud pasrah sambil terus berdoa. Ia mengikuti ke mana arah ombak membawanya. Beruntung pelampung yang menempel di badannya kuat.

"Alhamdulillah setelah sekitar tiga mil dari lokasi kapal tenggelam, saya ditemukan Tim SAR. Saya kemudian dibawa ke sini (RS Fatima). Sampai sekarang saya belum makan," ujarnya.

Pasca-kejadian mengerikan itu, Suyud berniat berhenti kerja di kapal. Alasannya, pengalaman pahit yang dialami pria asal Jawa Timur itu sudah kedua-kalinya. Tahun 1979 Suyud pernah mengalami nasib serupa, bahkan lebih menyedihkan.

"Saat itu saya malah berada di laut tiga hari, sedangkan kawan-kawan saya banyak yang meninggal. Sekarang saya mau istirahat saja, apalagi saya sudah tua," tuturnya. Suyud belum mengetahui sang kapten kapal ditemukan meninggal, dan juru minyak Munjirin belum ditemukan Tim SAR.

Sedangkan empat rekan Suyud selamat. Mereka Suryadi (juru minyak), Askandar (juru mudi), Hasan (juru mudi) dan Debi Sandio (wakil kapten kapal) diselamatkan nelayan. Menurut kesaksian Suryadi, ia dan tiga rekannya bernasib baik.

Mereka ditemukan nelayan sekitar pukul 09.00, kemarin. Suryadi mengaku ngeri atas peristiwa yang dialaminya. Ia tak menyangka kapal yang ditumpangi tenggelam dihantam ombak. "Ketika itu ada nelayan yang menemukan kami bersama tiga teman saya lainnya. Setelah itu kami dibawa ke Ketapang, karena memang sudah dekat," tutur Suryadi.

Tenggelamnya Kapal Express Cargo Super Mitra 3 bukan satu-satunya dalam cuaca buruk kemarin. Badai yang terjadi di perairan Kalbar, dinihari kemarin juga menenggelamkan dua kapal lainnya. Yakni, tugboat Sumber Berkat milik PT Sinar Inti dan tugboat Makmur Abadi.

Menurut Kepala Kantor Search and Rescue (SAR) Pontianak, Marsudi, hingga Sabtu sore, dua korban hilang belum ditemukan. "Tim SAR masih mencari korban hilang dari Kapal Express Cargo Super Mitra di sekitar Pulau Sempadeh Ketapang, dan satu korban dari tugboat Makmur Abadi yang sedang menarik tongkang berisi CPO di sekitar Pulau Karimata," kata Marsudi.

Sedangkan tugboat Sumber Berkat di sekitar Pulau Pejantan, Bengkayang, berhasil diselamatkan kapal yang sedang melintas di dekatnya. Mengenai tenggelamnya Kapal Express Cargo Super Mitra 3, Marsudi mendapat laporan dari Pos SAR Ketapang.

Ombak 6 Meter
Kapal itu tenggelam di perairan dekat Pulau Sempadeh, tepatnya pada koordinat 01 30' S-109 50' E atau sekitar 10 hingga 12 mil laut dari Ketapang, arah selatan. Pos SAR Ketapang berjumlah enam orang bergegas melakukan pencarian pukul 12.30 menuju lokasi musibah menggunakan tugboat dibantu Satpol Airud beserta keamanan laut Ketapang.

"Tim SAR sekitar pukul 14.00 menemukan satu korban lagi, Iyus (Suyud) yang sedang terapung- apung. Anggota SAR kemudian membawanya ke RS Bersalin Fatima dan setelah mendapat perawatan anggota kita pulang. Kita masih menunggu perkembangan dari lokasi kejadian," kata Koordinator SAR Ketapang, Gusti Anwar Mulyadi.

Menurut Prakirawan Stasiun Meteorologi Maritim Pontianak, Erika Mardiyanti Skom, gelombang di Kepulauan Natuna dan Laut China Selatan 3-5 Desember sangat tinggi. Tinggi gelombang maksimum mencapai enam meter.

Sedangkan rata-rata gelombang di perairan Kalbar mencapai 3-4 meter. Selasa (6/12) lusa, diprediksi terjadi penurunan tinggi gelombang, terutama untuk wilayah Selatan Kalbar. Seperti Karimata, gelombang maksimum mencapai 2,5 meter.

Ganasnya lautan ini menurut Menko Kesra, Agung Laksono merupakan siklus lima tahunan yang harus diwaspadai. Hujan akhir tahun ini akan sangat hebat. "Tahun ini kita akan dapat siklus lima tahun musim hujan dan lebih besar dari biasanya," kata Menko Kesra, Agung Laksono.

Agung menyatakan telah mempersiapkan antisipasi menghadapi musim hujan hebat tersebut. "Saya sudah ke seluruh provinsi seperti di Jakarta, Jawa barat dan Jawa Tengah. Pelaksanaan penaggulangan bencana tak bisa berdiri sendiri, harus melibatkan pemerintah pusat dan daerah," tegas Agung.

Pemerintah telah menyiapkan dana Rp 3-4 triliun dalam bentuk Paket Dana Cadangan Bencana untuk mengantisipasi banjir. "Kami selalu siap sedia menganggarkan berapa pun yang diperlukan untuk bencana yang diharuskan untuk kita tangani. Paket Dana Cadangan Bencana, setiap tahun dialokasikan Rp3-4 Triliun akan dilakukan secara efektif," jelas Agung Laksono.

Larangan Beroperasi
Menurut Agung curah hujan tahun 2011 ini siklus lima tahunan yang kemungkinan lebih besar dari tahun sebelumnya. "Kemungkinan bisa terjadi banjir di beberapa daerah di Indonesia, termasuk Jakarta," tegasnya.

Kepala Pusat Data Informasi dan Humas Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Sutopo mengatakan, pihaknya sudah menyediakan dana bencana banjir sebesar Rp 116 miliar untuk seluruh Indonesia. "Kami sedang mengajukan tambahan Rp 100 miliar untuk tahun 2011 sampai akhir Desember," kata Sutopo.

Tak hanya bencana banjir, jalur transportasi laut dan udara turut berbahaya selama siklus lima tahunan. Menteri Perhubungan EE Mangindaan bahkan pekan lalu telah mengimbau dan memperingatkan tentang kemungkinan terjadinya penundaan jadwal penerbangan akibat cuaca buruk. 

Imbauan ini disampaikan usai rapat antisipasi dampak perubahan iklim. "Kepada pengguna jasa penerbangan termasuk masyarakat umumnya, kalau ada penerbangan yang delayed, karena cuaca ekstrem itu adalah larangan kami untuk keselamatan terbang," ujar Mangindaan.

Larangan terbang tersebut merupakan bagian dari prosedur tetap baru yang diterapkan Kementerian Perhubungan menindaklanjuti peringatan BMKG tentang kemungkinan terjadinya cuaca yang ektrem. Parameter yang dipakai untuk menetapkan larangan terbang adalah jarak pandang aman pilot pesawat terbang yang bersangkutan.

"Ada alatnya. Kalau jarak pandang 2.500 tidak bisa kelihatan, jangan coba-coba terbang," jelas mantan Ketua Fraksi Demokrat di DPR itu. Ketentuan serupa juga berlaku untuk moda transportasi laut.

Apabila tinggi ombak di rute pelayaran yang akan dilalui diketahui mencapai tiga meter dari permukaan laut, seluruh kapal dilarang meninggalkan pelabuhan hingga cuaca kembali dinyatakan aman.

"Masyarakat harus tahu ini. Jangan dipaksa-paksa jalan, karena ini demi keselamatan bersama. Semoga ini menjadi aturan yang harus dipegang seterusnya," tegas Mangindaan. (tribun pontianak edisi cetak)
Bagi apa yang Anda baca dengan teman Anda.
  | Social:    ON Social:    OFF | Option
0 KOMENTAR
7536 articles 10 0
Loading...
Sebelum memberikan komentar, silahkan login menggunakan
TERBARU
TERBARU
TERLAMA
TERKOMENTARI
TRIBUNnews.com © 2014 About Us Help
Atas