HUT RI

Memori Penumpasan PGRS dan Paraku

AH. Asyih menuturkan ada 8 orang yang sangat aktif membantu TNI ketika menumpas PGRS/Paraku di Mungguk Gelumbang dan sekitarnya.

Memori Penumpasan PGRS dan Paraku
ISTIMEWA
Munang (depan), warga Desa Mungguk Gelumbang merupakan saksi hidup penumpasan Pemberontakan Gerilya Rakyat Sarawak (PGRS) dan Paraku.
Oleh: Sykur Saleh
Staf Humas Pemkab Sintang


TRIBUNPONTIANAK.CO.ID, SINTANG -
Munang  warga Desa Mungguk Gelumbang merupakan  saksi hidup penumpasan Pemberontakan Gerilya Rakyat Sarawak (PGRS) dan Paraku, berjalan pincang mengikuti upacara pengibaran bendera merah putih pada peringatan detik-detik proklamasi Republik Indonesia di Desa Mungguk Glombang.

Sebagai korban perang, Munang merasa semangat ketika upacara Bendera Merah Putih bisa dilaksanakan di daerah basis penumpasan PGRS/Paraku, sehingga harus hadir dalam upacara memperingati hari kemerdekaan RI tersebut.

Pria yang kini sudah berumur 68 tahun tersebut, mengingatkan pemerintah agar menghargai jasa-jasa para pahlawan yang sudah mengorbankan jiwa dan raga demi bangsa dan negara.

Ia menjadi cacat seumur hidup karena pada tahun 1972, sebutir peluru pasukan PGRS menembus paha sebelah kanan saat terjadi kontak senjata antara Pasukan TNI dengan PGRS/Paraku di Sungai Kemawil.

Luka tembakan tersebut hingga kini masih membekas. Saat itu, ia sebagai hansip yang bertugas membantu pasukan TNI dalam menumpas PGRS/Paraku yang terjadi selama lima tahun dari tahun 1968-1973. Sejak paha kanannya ditembus peluru, hingga kini, Munang tidak bisa bekerja secara normal seperti kepala keluarga lainnya.

"Saat itu ada  pasukan TNI dari 642 kompi A dan RPKAD yang ada di Mungguk Glombang. Selama penumpasan tersebut seingat saya ada satu anggota TNI yang gugur ditembak anggota PGRS/Paraku ketika sedang mandi" tutur Munang yang didampingi AH. Asyih yang juga petinggi adat Dayak Ketungau Tengah.

AH. Asyih menuturkan ada 8 orang yang sangat aktif membantu TNI ketika menumpas PGRS/Paraku di Mungguk Gelumbang dan sekitarnya.

Dari 8 orang tersebut, 7 diantaranya sudah gugur dan 6 orang sudah dianugrahi gelar Prada Anumarta oleh pemerintah.  Munang merupakan satu-satunya yang masih hidup hingga kini.

"Dalam surat keputusan TNI Angkatan Darat tertanggal 1 Mei 1970 tertulis bahwa ada 6 orang yang diberikan penghargaan berupa gaji sebesar Rp 480, namun gaji tersebut tidak pernah diterima oleh ahli warisnya. Hanya saja pernah dibantu sapi, kambing dan pakaian" tutur AH Asyih.

"Nah, momentum peringatan hari proklamasi RI yang ke 66 ini, kami mohon Pemkab Sintang bisa membantu kami mengurusi hak para pahlawan tersebut" tutur AH. Asyih.

Baik Munang maupun AH Asyih menyatakan bahwa mereka dan seluruh masyarakat Mungguk Gelumbang sangat mencintai NKRI. "Jangan ragulah soal kecintaan kami pada bangsa Indonesia. Namun, kami juga minta agar pemerintah memperhatikan kawasan perbatasan. Khususnya infrastruktur jalan dan jembatan. Itu yang menjadi kebutuhan utama kami" tutur Munang dan Asyih.


Penulis: Ali Anshori
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved