A PHP Error was encountered

Severity: 4096

Message: Object of class stdClass could not be converted to string

Filename: controllers/articles.php

Line Number: 105

A PHP Error was encountered

Severity: Notice

Message: Object of class stdClass to string conversion

Filename: controllers/articles.php

Line Number: 105

A PHP Error was encountered

Severity: Notice

Message: Undefined variable: Object

Filename: controllers/articles.php

Line Number: 105

A PHP Error was encountered

Severity: Notice

Message: Trying to get property of non-object

Filename: controllers/articles.php

Line Number: 105

Soekarno Dekati Heldy Saat Usia Baru 18 Tahun (4) - Tribun Pontianak
  • Tribun Network
  • Login
  •  
  •  
  • Tribun JualBeli
Senin, 28 Juli 2014
Tribun Pontianak

Soekarno Dekati Heldy Saat Usia Baru 18 Tahun (4)

Selasa, 9 Agustus 2011 10:49 WIB
Soekarno Dekati Heldy Saat Usia Baru 18 Tahun (4)
ARSIP KOMPAS
Ignatius Joseph Kasimo (kiri) saat bertemu Presiden Soekarno.

Oleh:

Achmad Subechi



TRIBUNPONTIANAK.CO.ID, JAKARTA - SEJAK kali pertama bertemu, Presiden Soekarno rupanya mulai terpikat dengan Heldy. Saat berada di Istana, tokoh proklamator itu tak segan-segan mengajukan pertanyaan kepada sang gadis. Apa isi dialognya?


GERAK-gerik Presiden RI I Soekarno saat berdialog dengan Heldy, gadis asal Tenggarong, Kutai Kartanegara, Kalimantan Timur, rupanya diamati oleh Yus kakak kandung Heldy.


Seorang bagian protokol kepresidenan mendekati Yus. "Adikmu tadi mendapat perhatian khusus dari Presiden. Lihat adikmu diajak bicara Presiden. Artinya, adikmu mendapat perhatian. Baik-baik dijaga," pesannya. Mendengar nasehat itu, Yus sendiri tidak tahu makna dari kata dijaga.


Pengalaman pertama menjadi anggota barisan Bhineka Tunggal Ika, membuat Heldy senang. Apalagi, ia sempat diajak ngobrol Bung Karno. Selanjutnya, pertemuan antara Heldy dengan Bung Karno terjadi, ketika kepala sekolahnya, memanggil Heldy.


Sekolah Guru Kepandaian Putri (SGKP) yang kemudian berubah nama menjadi Sekolah Kepandaian Keputrian Atas (SKKA). Sekarang sekolah itu diubah lagi menjadi Sekolah Menengah Kepandaian Keputrian (SMKK).


Tak hanya Heldy. Beberapa murid lainnya juga dipanggil dan diajak ke Istana Bogor untuk masuk ke dalam barisan Bhineka Tunggal Ika. Mereka berangkat menumpang bus khusus.


Sesampainya di Istana Bogor, mereka diminta berdandan. semua sudah disediakan, mulai dari pakaian kebaya, kain, cemara untuk sanggul hingga selop sepatu. Sang periasnya adalah Maryati, penyanyi keroncong.


Saat barisan Bhineka Tunggal Ika sudah berdandan, para pagar ayu diminta berbaris dan menempati posisinya masing-masing untuk siap-siap menerima tamu.


Saat itu Heldy memilih berdiri di pojok, takut dilihat Bung karno. Apalagi ketika itu, kebayanya kelihatan kedodoran dan sanggulnya terasa ogleg.


Nah, ketika Presiden Soekarno memasuki ruangan untuk melihat barisan Bhineka Tunggal Ika, matanya mendadak menatap Heldy. Melalui ajudannya, Heldy lalu dipanggil Soekarno. Kakinya bergetar, hatinya berdebar.


Soekarno kemudian menegurnya. "Sanggulmu salah, bukan begini. Juga kebaya dan kainmu. Siapa yang mendadanimu?" "Ibu Maryati Pak."

               
Setelah itu, pertemuan antara Soekarno dengan Heldy terjadi kembali, saat anggota barisan Bhineka Tunggal Ika diwajibkan menyanyi di depan presiden, satu persatu. Dari sekian anggota, Heldy mendapat urutan nomor satu untuk menyanyi.


Ia pun tarik olah vokal, menyanyikan lagu asal Kalimantan. Usai menyanyikan lagu berjudul 'Bajiku Batang (padi), Bung Karno meminta Heldy untuk menyanyikannya sekali lagi.
Pertemuan selanjutnya terjadi saat Yus kakak kandung Heldy meminta ke Istana untuk menjadi pagar ayu kembali.


Saat Bung Karno masuk ruangan, kedua matanya menyapu semua sudut ruangan. Lalu, Bung  Karno memperhatikan Heldy yang ketika itu mengenakan kebaya warna hijau. Lalu dipanggilah Heldy.


Lagi-lagi gadis itu dengkulnya gemetaran. Ia berjalan perlahan menghampiri Bung Karno. Setelah mendekat, Bung Karno dengan suaranya yang khas bertanya. "Kemana saja kau? Sudah lama tidak kelihatan?" "Sakit Pak," jawab Heldy.


"Bohong, kau pacaran. Saya lihat kau di Metropole (sekarang Megaria) sedang menonton film." "Tidak Pak..." Kemudian Soekarno mengutarakan niatnya. "Nanti kalau lenso sama aku ya, sini kau duduk dekat aku."


Karuan saja, hati Heldy berkecamuk, antara takut, senang dan gemetar. Ia takut melakukan kesalahan saat lenso dengan presiden. Untungnya, selama di Jakarta, ia pernah diajari menari lenso oleh kakaknya. Malam itu, tamu negara yang hadir diantaranya ada Titiek Puspa, Rita Zahara dan Feti Fatimah.


                  
Heldy lalu duduk di kursi yang letaknya persis di belakang presiden. Selama ini siapapun yang dipilih Bung Karno untuk menari lenso, selalu duduk di dekatnya. Saat berlenso dimulai. Bung Karno mulai mengajak Heldy.


adis itu diam membisu tak berani menatap wajah sang presiden. Bung Karno lalu berbisik. "Siapa namamu?" "Heldy..." "Boleh aku datang ke rumahmu? Sekolahmu?" "Kelas dua SKKA."


Dialog terus berlangsung. Bung Karno semakin gencar mengajukan pertanyaan. "Berapa umurmu?" "Delapan belas tahun." "Hmmmm... cukup," kata Bung Karno. Heldy sendiri mengaku tidak pernah tahu apa arti dari ungkapan Bung Karno yang mengatakan cukup.


Keduanya terus berlenso diikuti irama musik dan nyanyian dari para tamu yang dilantunkan secara serentak penuh hentak. Syairnya kira-kira begini: 'Baju hijau siapa yang punya, baju hijau siapa yang punya, baju hijau siapa yang punya, baju hijau bapak yang punya'
Lagu itu berulang-ulang dinyanyikan hingga tepukan tangan membahana di seantero ruangan.


Esoknya, Heldy mulai merasa tidak nyaman saat bersekolah. Ia merasa ada yang mengawasinya. Bahkan, ia merasa tak sebebas dulu saat berteman dengan teman-temannya di sekolah.


Bahkan, Zulkifli, teman Heldy yang kerap bertandang ke rumah Heldy, tak lagi berani mendekat.Apalagi, beberapa bulan setelah itu, Zulkifli pernah melihat Heldy pergi ke dokter THT dikawal orang Istana. Penampilannya tetap sederhana, namun auranya begitu memancar. (Bersambung....)



Sumber: Tribunnews
Bagi apa yang Anda baca dengan teman Anda.
  | Social:    ON Social:    OFF | Option
TRIBUNnews.com © 2014 About Us Help
Atas