Cinta Terakhir Bung Karno

Soekarno Tergoda Saat Pandangan Pertama (3)

Setelah tamat dari SMP, Heldy hijrah ke Jakarta menyusul kakaknya untuk mencari ilmu. Cita-cita nya menjadi seorang desainer interior.

Soekarno Tergoda Saat Pandangan Pertama (3)
Bedah Buku


Letak sekolahnya di daerah Pasar Baru. Di sekolah ini, sejumlah gadis dari daerah, menimba ilmu tentang dunia masak-memasak dan mengurus rumah tangga.


Sejak sekolah di tempat itu, setiap hari Heldy naik bus menuju ke sekolahnya. Kadang ia dijemput oleh rekannya bernama Sri.


Di sekolahnya khusus buat murid yang beragama Islam, diadakan pencarian bakat siapa yang mahir membaca Al Qur'an. Kepala sekolah memberikan pengumuman kepada para murid yang bisa membaca Al Qur'an disarankan ke kantor kepala sekolah untuk dites.


Dari sekian banyak murid dipilihlah Heldy. Mengapa? Sejak kecil ia sudah khatam membaca Al Qur'an. Kepandaiannya membaca Al Qur'an membuat Heldy makin dikenal di sekolahnya.


Suatu hari Heldy diundang sebagai qoriah dalam acara peringatan Nuzulul Qur'an di asrama mahasiswa Universitas Indonesia di Jalan Pegangsaan Timur, Jakarta Pusat.


Heldy diundang oleh guru kimianya yang waktu itu juga tercatat sebagai mahasiswa kedokteran UI. Namanya Zulkifli TS Tjaniago (kini menjadi dokter spesialis kandungan).


Sejak saat itu Heldy tak hanya dikenal di sekolahnya saja. Para mahasiswa banyak yang mengenal namanya. Bahkan, ia pernah dipilih menjadi cover majalah Pantjawarna. Di cover tersebut, Heldy memakai busana khas Tenggarong, lengkap dengan sanggul cepol di atas dan tusuk kembang goyang.


                     
Lalu bagaimana ceritanya Heldy bisa masuk ke lingkungan Istana Kepresidenan? Adalah Yus, sang kakak yang waktu itu kuliah di UI. Saat itu Yus dipercaya oleh protokol kepresidenan untuk menyiapkan barisan Bhineka Tunggal Ika ke Istana. Biasanya, ia mencari remaja putri dan putra yang layak untuk menjadi bagian dari barisan itu.


Dipilihlah Heldy, adiknya, sebagai wakil dari Kalimantan. Begitu juga sepupu dan keponakannya. Semuanya ikut menjadi barisan Bhineka Tunggal Ika.


Dan sudah menjadi tradisi bagi Istana, setiap kali mengadakan kegiatan, tim protokol membutuhkan pagar ayu, pagar bagus yang terdiri dari para remaja lengkap dengan pakaian daerah seluruh Indonesia.


Biasanya diambil dari perhimpunan remaja daerah yang tinggal di Jakarta. Bung Karno sangat menyenangi keindahan dan peduli dengan kekayaan budaya Indonesia yang begitu beragam.


Suatu hari pada tahun 1964, Istana sedang sibuk menyiapkan penyambutan tim Piala Thomas. Untuk itu dibutuhkan barisan Bhineka Tunggal Ika, sebagai penerima tamu. Heldy dipilih untuk ikut serta. Ia mengenakan kebaya warna pink dengan kain lereng berselendang dan memakai sanggul.


Tibalah hari H. Heldy bersama remaja lainnya siap berdiri secara teratur di anak tangga Istana, berbaris rapi dekat pintu masuk.


Seperti biasa, Presiden Soekarno menaiki anak tangga Istana melalui barisan Bhineka Tunggal Ika yang sudah rapi berbaris dan berdiri di setiap anak tangga.
 


Bung Karno menaiki anak tangga satu persatu sambil melihat ke kanan dan ke kiri. Tepat saat mendekati barisan di belakang Heldy, ia menyapa dengan caranya yang khas.


"Darimana asal kamu?" "Dari Kalimantan Pak." "Oh... aku kira dari Sunda. Oh... ada orang Kalimantan cantik." Itulah awal pertama percakapan Heldy dengan Bung Karno. (Bersambung........)


Sumber: Tribunnews
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved