Senin, 27 April 2015

Pilot Wanita Ini Perkasa di Angkasa

Senin, 8 Agustus 2011 19:35

Pilot Wanita Ini Perkasa di Angkasa
TEMPO/Yosep Arkian
Sarah Kusuma

Sarah Kusuma yang seumur-umur belum pernah naik pesawat sempat syok. Tapi ia berupaya keras mengendalikan diri agar tidak panik berlebihan. Itulah uji nyali paling dramatis yang berhasil dilalui dan mengantarnya untuk mengikuti pendidikan sebagai penerbang dengan gratis.



Sebetulnya cita-cita utama perempuan kelahiran Bandung, 3 Maret 1988 itu adalah menjadi dokter. Tapi ia harus mengubur cita-cita tersebut karena kondisi keuangan orang tuanya tak memungkinkan mereka merogoh kocek hingga ratusan juta rupiah untuk membiayainya.

Karena itu, selepas lulus dari SMA Negeri 7 Cikokol, Tangerang, pada 2005, Sarah berupaya mencari tempat kuliah yang gratis. Sekolah Tinggi Penerbangan (STP) di Curug-lah yang kemudian dipilihnya.



“Karena jurusan pilot sudah beberapa tahun vakum, saya pilih jurusan teknik pesawat. Tapi akhirnya saya menganggur karena tidak lulus,” kata sulung dari empat bersaudara itu saat disambangi Tempo di kediamannya di Graha Raya Bintaro, Selasa, 2 Agustus 2011 petang.
 

Tak putus asa, tahun berikutnya Sarah kembali mendaftar dan memilih jurusan penerbangan yang baru kembali diaktifkan. Selama menganggur, hari-harinya diisi dengan membantu sang ibu berbisnis kecil-kecilan dan sempat menjadi tenaga penjual peralatan komputer.



Di STP Curug, gadis dengan tinggi badan 165 sentimeter dan berat 52 kilogram itu menjadi satu-satunya siswa wanita dari 35 siswa lainnya. Prestasi akademisnya yang mencorong membuat maskapai Garuda meliriknya beberapa bulan sebelum masa pendidikannya berakhir pada 2009. Kini ia menjadi bagian dari enam pilot wanita di lingkungan maskapai terbesar di Tanah Air itu.



Tak cuma menyinggahi kota-kota di pelosok Nusantara, beberapa kota mancanegara, seperti Singapura, Kuala Lumpur, Bangkok, dan Hong Kong telah disinggahinya. Bahkan sejak April lalu, Sarah tak cuma menerbangkan Boeing 737 tipe klasik, tapi juga yang mutakhir: Boeing 737 Next Generation. “Besok pagi saya terbang ke Perth lewat Denpasar,” ujarnya.



Menjadi pilot juga bukan pilihan utama Allendia Traviana. Ia yang bercita-cita menjadi dokter gigi itu diterima di Fakultas Psikologi Universitas Negeri Solo pada 2007. Tapi karena kalkulasi biaya, ia akhirnya memilih ke sekolah penerbang Aero Flyer Institute milik Batavia Air. “Saya mengikuti ikatan dinas dengan Batavia selama 16,5 tahun sejak masa pendidikan selama dua tahun,” kata Allen.

Halaman12
KOMENTAR
TRIBUNnews.com © 2015 About Us Help
Atas