Senin, 24 November 2014
Tribun Pontianak

Pilot Wanita Ini Perkasa di Angkasa

Senin, 8 Agustus 2011 19:35 WIB

Pilot Wanita Ini Perkasa di Angkasa
TEMPO/Yosep Arkian
Sarah Kusuma
TRIBUNPONTIANAK.CO.ID - Begitu berada di ketinggian 3.000 feet, mesin tiba-tiba dimatikan dan pesawat menukik tajam untuk beberapa saat.

Sarah Kusuma yang seumur-umur belum pernah naik pesawat sempat syok. Tapi ia berupaya keras mengendalikan diri agar tidak panik berlebihan. Itulah uji nyali paling dramatis yang berhasil dilalui dan mengantarnya untuk mengikuti pendidikan sebagai penerbang dengan gratis.



Sebetulnya cita-cita utama perempuan kelahiran Bandung, 3 Maret 1988 itu adalah menjadi dokter. Tapi ia harus mengubur cita-cita tersebut karena kondisi keuangan orang tuanya tak memungkinkan mereka merogoh kocek hingga ratusan juta rupiah untuk membiayainya.

Karena itu, selepas lulus dari SMA Negeri 7 Cikokol, Tangerang, pada 2005, Sarah berupaya mencari tempat kuliah yang gratis. Sekolah Tinggi Penerbangan (STP) di Curug-lah yang kemudian dipilihnya.



“Karena jurusan pilot sudah beberapa tahun vakum, saya pilih jurusan teknik pesawat. Tapi akhirnya saya menganggur karena tidak lulus,” kata sulung dari empat bersaudara itu saat disambangi Tempo di kediamannya di Graha Raya Bintaro, Selasa, 2 Agustus 2011 petang.
 

Tak putus asa, tahun berikutnya Sarah kembali mendaftar dan memilih jurusan penerbangan yang baru kembali diaktifkan. Selama menganggur, hari-harinya diisi dengan membantu sang ibu berbisnis kecil-kecilan dan sempat menjadi tenaga penjual peralatan komputer.



Di STP Curug, gadis dengan tinggi badan 165 sentimeter dan berat 52 kilogram itu menjadi satu-satunya siswa wanita dari 35 siswa lainnya. Prestasi akademisnya yang mencorong membuat maskapai Garuda meliriknya beberapa bulan sebelum masa pendidikannya berakhir pada 2009. Kini ia menjadi bagian dari enam pilot wanita di lingkungan maskapai terbesar di Tanah Air itu.



Tak cuma menyinggahi kota-kota di pelosok Nusantara, beberapa kota mancanegara, seperti Singapura, Kuala Lumpur, Bangkok, dan Hong Kong telah disinggahinya. Bahkan sejak April lalu, Sarah tak cuma menerbangkan Boeing 737 tipe klasik, tapi juga yang mutakhir: Boeing 737 Next Generation. “Besok pagi saya terbang ke Perth lewat Denpasar,” ujarnya.



Menjadi pilot juga bukan pilihan utama Allendia Traviana. Ia yang bercita-cita menjadi dokter gigi itu diterima di Fakultas Psikologi Universitas Negeri Solo pada 2007. Tapi karena kalkulasi biaya, ia akhirnya memilih ke sekolah penerbang Aero Flyer Institute milik Batavia Air. “Saya mengikuti ikatan dinas dengan Batavia selama 16,5 tahun sejak masa pendidikan selama dua tahun,” kata Allen.



Anak bungsu dari M. Budi Kuntjo dan Mieke Radiana itu kini menjadi satu dari dua pilot perempuan di maskapai swasta itu. Ia dipercaya menerbangkan Boeing tipe 737-300, 400, dan 500 untuk rute domestik. Ia pertama kali menerbangkan penumpang dari Jakarta ke Ambon yang dikenal punya kesulitan tersendiri untuk mendarat. “Begitu landing dengan mulus, saya langsung telepon mama. Wah rasanya campur aduk deh. Dari semula beban, menjadi bahagia, bangga, dan haru,” ujar Allen.


Setiap kali akan terbang, gadis kelahiran Kupang, 10 November 1989 biasa memperhatikan gerak-gerik para calon penumpang dari jendela kokpit. “Beragam ekspresi mereka membuat saya fokus dalam bekerja,” ujar Allen.



Lain lagi dengan Capt. Esther Gayatri Saleh. Selama lebih dari 20 tahun, ia melakoni pekerjaan sebagai pilot penguji di PT Dirgantara Indonesia. Hampir semua jenis pesawat yang diproduksi PT DI, perempuan kelahiran Palembang, 3 September 1962 itulah yang pertama kali menguji, apakah pesawat layak terbang atau tidak. Esther juga melatih para pilot yang akan menerbangkan pesawat-pesawat yang dibeli dari PT DI, baik tipe militer maupun penumpang.



Kualifikasi untuk menjadi pilot penguji tentu lebih rumit dan minimal harus punya jam terbang antara 1.500-2.000 jam. “Biaya pendidikannya juga sangat mahal, sedikitnya 1 juta dolar,” kata Esther yang lulusan Sawyer School of Aviation, Phoenix, Arizona, Amerika.




Mahalnya biaya pendidikan, ia melanjutkan, perusahaan sekelas Boeing pun cuma punya 40 pilot penguji. “Yang disekolahkan khusus hanya empat orang, selebihnya dididik internal oleh pilot penguji di perusahaan itu,” ujarnya.



Profesi pilot tidak akan pernah lepas dari pendidikan. Mulai dari training yang harus dilalui untuk bisa menerbangkan jenis pesawat tertentu, hingga training yang dipersyaratkan untuk standar keselamatan yang harus dijabaninya tiap 6 bulan. “Anda jadi pilot harus sudah siap sekolah terus sampai tua,” kata Esther.



Bagi calon pilot, mulai dari seragam dan topi yang dikenakan melambangkan pengetahuan dan kemampuanya. Tanda pangkat di pundak melambangkan tanggung jawab dan tanda sayap (wing) di dada untuk mengingatkan bahwa manusia bukan burung. “Terbang itu passion. Jadi tanda wing itu taruh dekat hati,” ujar Esther tegas.

TEMPO

TRIBUNnews.com © 2014

About Us

Help

Atas