A PHP Error was encountered

Severity: 4096

Message: Object of class stdClass could not be converted to string

Filename: controllers/articles.php

Line Number: 107

A PHP Error was encountered

Severity: Notice

Message: Object of class stdClass to string conversion

Filename: controllers/articles.php

Line Number: 107

A PHP Error was encountered

Severity: Notice

Message: Undefined variable: Object

Filename: controllers/articles.php

Line Number: 107

A PHP Error was encountered

Severity: Notice

Message: Trying to get property of non-object

Filename: controllers/articles.php

Line Number: 107

Adik Gubernur Bantah Suap Rp 3 M - Tribun Pontianak
  • Tribun Network
  • Login
  •  
  •  
  • Tribun JualBeli
Selasa, 2 September 2014
Tribun Pontianak

Adik Gubernur Bantah Suap Rp 3 M

Jumat, 8 Juli 2011 03:24 WIB
Adik Gubernur Bantah Suap Rp 3 M
ANTARA/YUDHI MAHATMA
Dewi Yasin Limpo, mantan Caleg Partai Hanura dari Dapil Sulawesi Selatan I membantah menyuap anggota KPU Rp 3 miliar saat didaulat Panja Mafia Pemilu DPR, Jakarta, Kamis (7/7). Dewi Limpo termasuk saksi kunci kasus pemasuan surat putusan Mahkamah Konstitusi tentang penetapan kursi di DPR.
TRIBUN PONTIANAK.CO.ID, JAKARTA -  Ketika dipanggil Panja Mafia Pemilu DPR, Kamis (7/7), kader Partai Hanura yang gagal duduk di kursi DPR, Dewi Yasin Limpo, meluapkan kejengkelannya.

Dengan suara bergetar adik kandung Gubernur Sulawesi Selatan Syahrul Yasin Limpo itu membantah tuduhan sebagai aktor intelektual di balik pemalsuan surat MK.

"Saya tidak tahu menahu mengenai surat yang katanya palsu. Dengan tuduhan tersebut ibaratnya saya ini dipancung sebelum ada putusan hukum. Saya protes keras terkait tuduhan itu," ujar Dewi. Tuduhan tersebut sempat dilontarkan Ketua MK, Mahfud MD berdasarkan hasil investigasi internal MK.

Selain itu, Dewi menepis informasi yang menyebut ia pernah menawari uang Rp 3 miliar kepada Anggota KPU I  Gusti Putu Artha, untuk membantu mendapatkan kursi di DPR. "Itu fitnah, pembunuhan karakter. Saya tak pernah menawari atau memberi suap. Untuk apa saya memberi suap," tegas Dewi.

Kendati demikian ia mengaku pernah menemui Putu Artha untuk memprotes pembatalan putusan KPU yang meloloskan dirinya sebagai anggota parlemen di Senayan. "Waktu itu saya menemui Pak Putu untuk protes, mengapa hak saya sebagai anggota DPR dibatalkan," kata Dewi.

Dewi mengaku tak sendirian ketika menemui Putu. "Saya datang dengan sejumlah orang. Untuk apa saya menawarkan uang, sedangkan KPU sudah membatalkan perolehan kursi saya di DPR. Saya siap dikonfrontir dengan Pak Putu," tantang Dewi.

Dewi justru minta Putu mengingat lagi, siapa sebenarnya yang menawari suap. "Jangan-jangan ada orang lain. Coba ingat-ingat Pak Putu, siapa yang bawain Rp 3 miliar," kata Dewi. Ketika bertemu Putu, menurut Dewi, anggota KPU itu justru mengatakan bahwa kasus Dewi unik karena sudah ada putusan MK, tetapi batal jadi anggota DPR.

"Dia bilang, sudahlah nanti saya bikin buku, saya taruh ibu di dalamnya," tutur Dewi menirukan kata-kata Putu. "Saya bilang saya tidak butuh buku," tegasnya.

                                                                                                                             Hajar Aswad
Dewi mengajukan gugatan ke MK untuk minta keadilan, karena ada calon lain yang suaranya menggelembung. Saat itu MK mengabulkan permohonan Dewi namun jumlah perolehan suaranya berkurang.

"Jadi, di mana sebenarnya suara saya. Kemudian, setelah saya ditetapkan KPU sebagai anggota DPR, katanya ada surat palsu," tegas Dewi. Ia menceritakan kembali proses persidangan di MK untuk mendapatkan kursi di DPR.  Ia mengaku saat mengajukan sejumlah dokumen sebagai bukti ke MK, ibarat mencium hajar aswad di Makkah.

Untuk memfotokopi berkas 12 rangkap, ia harus menggunakan tiga mobil Toyota Kijang dan satu mobil pick up. "Bapak tahu bagaimana memasukkan data. Seperti mencium hajar aswad, dorong-mendorong. Saya jatuh pingsan. Beruntung ada yang menolong. Saya dorong troli ke dalam," tutur Dewi.

Dewi lantang mengatakan, telah dirugikan MK dan KPU. Ia merasa tak diuntungkan oleh surat palsu atau surat asli dari MK.  "Surat asli maupun yang dikatakan palsu, sama sekali tidak menguntungkan saya. Dalam surat yang dikatakan palsu itu, saya kehilangan 1.600 suara. Kalau saya dikatakan merancang (surat palsu), saya akan angkat (menggelembungkan suara) setinggi-tingginya," tegasnya.

Anggota Panja Mafia Pemilu, Budiman Sujatmiko kemudian bertanya siapakah pihak yang patut bertanggungjawab. Dengan lugas Dewi menyebut MK dan KPU.  "Menurut saya, dua-duanya. MK dan KPU, itu seperti Tom and Jerry. Sama saja, 13-12," tandas Dewi.

Dewi juga membantah, saat ditanyakan keberadaannya di kediaman mantan hakim MK, Arsyad Sanusi. Kehadirannya di tempat itu bukan untuk merancang surat palsu MK, tapi untuk urusan lain.

Menurut penjelasan Sekjen MK Djanedri M Gaffar, kedatangan Dewi Yasin Limpo ke kediaman Arsyad Sanusi untuk merancang penambahan suara dalam surat MK, tertanggal 17 Agustus 2009, yang kemudian dinyatakan palsu.

"Saya ada di rumahnya Arsyad. Kemudian Hasan (staf MK) datang sama Rara (cucu Arsyad). Urusannya lain-lain," katanya. Ketua Panja Mafia Pemilu, Chairuman Harahap kemudian mengklarifikasi bahwa yang diungkapkan Sekjen MK hanya berdasarkan investigasi tim MK. (tribunnews/yat/adi)
Bagi apa yang Anda baca dengan teman Anda.
  | Social:    ON Social:    OFF | Option
0 KOMENTAR
1725 articles 10 0
Loading...
Sebelum memberikan komentar, silahkan login menggunakan
TERBARU
TERBARU
TERLAMA
TERKOMENTARI
TRIBUNnews.com © 2014 About Us Help
Atas